Di bawah langit biru yang bersih, kota metropolitan terbangun dengan lembut. Matahari pagi menembus sela-sela gedung pencakar langit, memantulkan kilau keemasan di permukaan kaca yang menjulang tinggi.
Jalanan mulai dipenuhi kehidupan. Langkah-langkah cepat di trotoar, aroma kopi dari tangan-tangan yang terburu, senyum ramah yang terlempar sekilas di antara wajah-wajah lelah.
Di taman kota yang terletak di sudut jalan, embun masih berkilau di ujung rerumputan. Burung-burung kecil bernyanyi di cabang pohon, sementara angin pagi membawa aroma roti hangat dari kafe pinggir jalan dan wangi bunga yang baru mekar di pot-pot trotoar. Lampu jalan perlahan meredup, kalah oleh sinar mentari yang kian menghangat.
Di balik gemerlap pagi itu, di sebuah lorong sempit yang tersembunyi dari hiruk-pikuk dunia, ada kontras yang mencolok. Di sana, pemuda itu berjongkok di dekat tumpukan sampah.
Kedua tangannya sudah tiada. Hanya lengan yang terpotong hingga siku—kotor dan penuh luka. Dia menunduk dalam diam, menggali sisa-sisa makanan busuk dengan mulutnya.
Bau menyengat dari sampah bercampur dengan aroma minyak tengik dan tanah basah. Lalat berdengung di sekelilingnya, berebut dengan manusia itu atas remah kehidupan yang tersisa.
Matanya yang redup menatap sepotong roti berjamur. Tanpa ragu, dia menyentuhnya dengan bibir, mengunyah perlahan di atas tanah yang lembap. Seperti seekor anjing kelaparan.
Dari kejauhan, beberapa orang melihatnya. Wajah mereka menegang. Jijik. Muak.
“Lihat dia… seperti anjing,” bisik seseorang, suaranya tajam, menusuk.
Pemuda itu mendengarnya. Dia terdiam sesaat, tak berhenti. Dia terus menggali, mencari serpihan makanan lain.
“Menjijikkan! Tubuhnya bau busuk. Merusak pemandangan!” seru yang lain.
Lalu hujan kecil batu, botol, dan sisa minuman mulai berterbangan ke arahnya.
Pemuda itu berhenti makan. Dia mendongak. Pandangan matanya kosong, menatap mereka yang kini berdiri di ujung lorong. Wajah-wajah manusia dengan tatapan sinis dan bengis, seolah melihat makhluk hina yang tak layak hidup.
“Kenapa kalian seperti itu? Aku juga manusia…” Suaranya serak, pelan. Air mata menetes, jatuh melewati luka-luka bernanah di pipinya.
“Manusia tidak makan seperti anjing,” jawab seseorang dingin. “Pergi kau, manusia busuk!”
Batu kembali melayang. Dia menjerit, lalu bangkit dan berlari tertatih. Setiap langkahnya berat, setiap napasnya perih. Dia berlari keluar dari gang, meninggalkan caci maki dan tawa kejam di belakangnya.
Begitu keluar ke jalan utama, dunia seakan tetap berjalan tanpa peduli. Orang-orang berlalu-lalang, sibuk dengan hidup mereka. Tatapan jijik tetap mengikuti langkahnya. Beberapa menutup hidung, yang lain berpaling. Ada yang bahkan meludah ke tanah di dekat kakinya.
Pemuda itu menunduk. Tubuhnya gemetar. Dia berjalan pelan di pinggir gedung, berusaha tak menarik perhatian.