Cahaya matahari pagi menyelinap lembut di antara dedaunan lebat, jatuh di lantai hutan yang diselimuti lumut hijau yang lembut.
Hutan itu hidup bersama nyanyian alam. Kicau burung menggema di kejauhan, berpadu dengan gemerisik dedaunan yang menari diterpa angin sepoi-sepoi. Di dekat sana, suara gemericik air sungai jernih mengalun seperti melodi kuno yang menenangkan. Pohon-pohon tinggi menjulang megah—batangnya kokoh dan dipeluk lumut serta anggrek liar yang mekar dengan warna-warna lembut.
Kabut tipis melayang di udara, menebarkan aura misterius yang membuat hutan ini terasa seperti penjaga rahasia masa lampau. Rahasia yang belum pernah diucapkan siapa pun.
Di tengah keindahan itu, pemuda itu terbangun dengan napas tersengal. Tubuhnya basah kuyup, pakaiannya compang-camping, luka-luka di kulitnya masih terbuka—mengalirkan darah bercampur nanah. Dia terdampar di tepi sungai, terhempas di antara bebatuan licin setelah insiden yang mencekam di malam sebelumnya.
Dengan sisa tenaga, dia berusaha bangkit. Pandangannya menelusuri sekitar. Hutan yang asing, namun memukau. Cahaya matahari menembus kanopi pepohonan, menciptakan lorong-lorong cahaya yang seolah mengundangnya untuk melangkah lebih dalam.
Aroma tanah basah dan wangi bunga liar memenuhi udara, membangkitkan rasa tenang yang aneh. Seakan dunia luar yang keras dan bising telah lenyap, digantikan oleh lukisan alam yang hidup. Di kejauhan, samar-samar terdengar suara air terjun. Lembut, menenangkan, seolah memanggilnya untuk datang.
Langkah demi langkah, pemuda itu berjalan. Kakinya tenggelam di tanah empuk yang berselimut daun kering. Dia melewati pohon beringin tua dengan akar-akar menjulur seperti lengan raksasa, dan semak-semak yang dipenuhi kupu-kupu berwarna safir dan ruby—berkilau di bawah cahaya matahari pagi.
Saat matahari merangkak naik, dia tiba di sebuah lembah kecil. Di sana, air terjun mungil mengalir dari tebing berlumut, jatuh lembut ke kolam jernih yang memantulkan langit biru. Bunga-bunga liar tumbuh subur di sekelilingnya. Ungu lembut, merah menyala, dan putih seputih kabut pagi. Burung-burung kecil beterbangan di udara—sayap mereka memantulkan cahaya, menari seperti permata hidup.
Pemuda itu duduk di bawah naungan pohon besar, menatap pemandangan itu dalam diam. Luka di tubuhnya masih perih, entah mengapa hatinya terasa damai. Hutan ini, dengan segala pesonanya, seakan berbisik lembut bahwa dia tidak sendirian.
Saat senja menurunkan tirainya, langit di atas hutan berubah menjadi lautan oranye dan ungu. Cahaya terakhir matahari memantul di kolam, berkilau bagai api yang tenang.
Pemuda itu tahu, dia mungkin tak bisa kembali. Kali ini, dia tak merasa takut. Dia hanya duduk, membiarkan dirinya larut dalam keajaiban hutan yang menampungnya. Seolah seluruh dunia berhenti bernapas, menunggu malam turun perlahan.
Saat matahari tenggelam di balik cakrawala, hutan yang tadinya tampak memukau perlahan berubah rupa. Langit oranye keunguan meredup menjadi hitam kelam, diselimuti awan tebal yang menelan cahaya bulan sabit di baliknya.
Angin malam berembus lebih keras, mengguncang ranting-ranting tua hingga mengeluarkan bunyi berderak. Daun-daun kering beterbangan, dan suara-suara samar di antara pepohonan terasa seperti bisikan makhluk yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Bau tanah basah bercampur dengan aroma tajam dedaunan membusuk—bau kematian yang hidup di dalam kegelapan hutan.
Di bawah sebuah pohon besar, pemuda itu duduk membungkuk. Tubuhnya menggigil hebat. Pakaian yang basah menempel di kulitnya, dingin menembus tulang. Setiap hembusan angin membuat luka di tubuhnya berdenyut nyeri.
Cahaya bulan yang redup menyingkap bayangan pepohonan menjulang tinggi, seperti raksasa tanpa wajah yang mengawasi. Suara ranting patah, derit batang, gesekan daun—semuanya terdengar begitu jelas. Setiap bunyi kecil seolah menjadi langkah sesuatu yang mendekat. Jantungnya berdetak cepat, matanya liar menatap ke segala arah.
Lalu, dari kejauhan, terdengar suara yang membuat darahnya membeku. Lolongan panjang. Dalam. Serak. Disusul geraman rendah yang menggema di antara batang-batang pohon.
Pemuda itu menegang. Matanya menyipit, berusaha menembus kegelapan. Di sanalah dia melihatnya—sepasang mata kuning menyala di antara semak-semak. Lalu satu lagi.
Dalam hitungan detik, puluhan mata itu muncul, bergerak perlahan. Sekelompok anjing liar muncul dari kegelapan. Tubuh mereka kurus, berotot, bulu kusut penuh lumpur. Langkah mereka tenang, penuh ancaman. Taring-taring mereka berkilau di bawah cahaya bulan.
Geraman menggema, berat dan berirama. Mereka mengelilinginya, membentuk lingkaran yang rapat.