ADA

Rian Nugraha
Chapter #18

BAB IV : UJIAN - Kehampaan Cahaya

Di tengah ruang hampa yang pekat, keheningan menggelegar begitu keras hingga terdengar seperti jeritan tanpa suara. Tak ada arah, tak ada batas. Hanya gelap yang menelan segalanya.

Lalu, satu per satu, titik-titik cahaya muncul dari kegelapan. Kecil. Redup. Menusuk pandangan, seperti mata-mata yang mengintai dari balik tirai malam.

Pemuda itu menggantung di sana. Tak berkedip, tak bergerak. Seolah tubuhnya tertahan di antara dua lapisan dunia.

Udara di sekitarnya terasa berat, menekan dada seperti beban tak kasat mata. Setiap napas yang dia tarik terdengar seperti logam beradu—seret, dingin, dan menyakitkan.

Cahaya-cahaya itu semakin terang. Tak ada kehangatan yang datang bersama nyalanya. Yang merayap justru ketakutan dan dingin yang menjalar ke setiap inci kesadarannya.

Ada sesuatu yang salah dengan cahaya itu. Terlalu hidup, terlalu sadar. Seolah bukan sekadar sinar, melainkan tatapan yang mengamati, menunggu, dan tahu bahwa dia sedang menatapnya kembali. Jantungnya berdetak tak karuan. Perlahan, dia sadar—detak itu bukan miliknya lagi.

Dari kejauhan, satu titik cahaya mulai bergerak, mendekat.

Lalu terdengar gemuruh. Bukan petir. Bukan angin. Bukan suara dunia yang dikenal manusia. Lebih dalam dari itu. Lebih purba. Seperti langit yang merintih di bawah tekanan sesuatu yang tak seharusnya ada.

Nada gemuruh itu rendah, berat, berdetak seperti jantung raksasa yang hidup di balik kegelapan. Getarannya menjalar ke tulang, membuat udara sendiri terasa berdenyut. Kadang berirama lembut seperti napas yang tertahan, lalu tiba-tiba meledak tajam, memecah kesunyian, menggetarkan ruang hampa itu.

Suara itu bukan hanya terdengar—ia menekan udara, memaksa telinga berdengung. Semakin cahaya itu membesar, semakin gemuruhnya mengguncang, seperti perpaduan desis logam yang bergesek dengan raungan makhluk asing yang tak punya bentuk.

Lihat selengkapnya