Di tengah keindahan yang sulit dilukiskan dengan kata, udara dipenuhi ketenangan yang begitu dalam—menyentuh hati seperti lagu yang tak pernah selesai.
Hamparan taman bunga terbentang sejauh mata memandang. Kelopak-kelopak berwarna merah muda, kuning lembut, dan ungu bergetar perlahan ditiup angin, menebar aroma harum yang menghipnotis jiwa. Di antara bunga-bunga itu, batu safir berkilau memantulkan cahaya biru lembut, seperti langit malam yang jernih menetes di tanah.
Marjan-marjan bergradasi merah, merah muda, dan putih mutiara berdiri anggun di antara rerumputan hijau, memancarkan kemilau magis yang memanjakan pandangan.
Di kejauhan, sungai susu mengalir lembut—permukaannya berkilau bagai mutiara cair. Suara gemericiknya berpadu dengan bisikan angin, membentuk irama damai yang menenangkan hati.
Tak jauh dari sana, sungai madu mengalir perlahan. Warnanya keemasan, berkilau disinari cahaya matahari yang menembus dedaunan. Udara terasa segar, hangat, dan manis. Seolah waktu sendiri berhenti untuk merayakan kesempurnaan alam.
Pemuda itu terdiam. Matanya membesar, bibirnya terbuka tanpa suara. Dia berlutut, menatap sekeliling tanpa percaya. Dunia di hadapannya terlalu indah, terlalu sempurna, terlalu jauh dari dunia sebelumnya yang penuh penderitaan.
Dia menatap dalam diam. Warna, suara, dan cahaya berpadu seperti harmoni surgawi. Di tempat ini, jiwanya serasa menemukan rumah.
Dari kejauhan, terdengar suara lembut—seolah sekumpulan orang tengah berbicara. Dia berdiri perlahan, langkahnya hati-hati mengikuti arah suara itu.
Lalu dia melihat mereka. Sekelompok wanita berdiri di tepi sungai, kecantikannya melampaui logika manusia. Kulit mereka berpendar cahaya lembut, tubuhnya menjulang setinggi dua meter, lekuknya sempurna, rambutnya panjang berkilau keemasan. Dari punggung mereka tumbuh sayap putih dengan bulu sehalus sutra. Senyum mereka begitu memikat, membuat hati siapa pun yang memandangnya luluh.
“Itu... bidadari...” gumamnya, suaranya hampir tak terdengar.
Dia melangkah pelan, sesuatu di dalam dirinya menahannya. Perasaan kecil, tak layak, dan hina muncul begitu saja. Dia berhenti. Pandangannya tertunduk.
Di sisi sungai, tampak beberapa pria berpostur tinggi—tiga hingga lima meter—berotot dan tampan. Sayap mereka besar dan kuat. Mereka menimba madu dan susu dengan tenang.
Pemuda itu menatap tangannya sendiri. Kecil, rapuh, tak berarti di hadapan makhluk-makhluk sempurna itu. Rasa percaya dirinya runtuh.
Dia berbalik, melangkah menjauh, menyusuri taman bunga dengan kepala tertunduk. Setiap langkah terasa berat, seperti beban malu yang tak terlihat menghimpit dadanya.
Dari kejauhan, di atas sebuah pohon tinggi, sosok Manusia Cahaya mengamati setiap gerak-geriknya dalam diam.
Pemuda itu akhirnya tiba di puncak bukit. Dia duduk di antara bunga-bunga, memetik satu kelopak, menatapnya lekat-lekat, lalu menghirup aromanya perlahan. Ketenangan menyelubunginya—lembut seperti pelukan. Dia merasa benar-benar damai. Tak ada penderitaan, tak ada kesepian.
Kedamaian itu buyar seketika. Dari arah bawah bukit, terdengar langkah-langkah cepat, berat, mendekat.
Dia menoleh. Matanya terbelalak. Seekor makhluk raksasa berlari lalu melompat, mengepakkan sayapnya, terbang menuju dirinya.
Seekor anjing berdiri tegak di hadapannya. Tiga meter tinggi tubuhnya, bulunya hitam legam berkilau, matanya tajam seperti bara. Sayap hitam terlipat di punggungnya, dan di tangannya tergenggam tongkat emas berukir rumit.
Pemuda itu menunduk. Bukan karena takut, melainkan karena merasa makhluk itu bahkan lebih sempurna darinya.
“Aku penjaga dunia ini,” suara anjing itu bergemuruh, dalam dan tegas. “Kenapa ada manusia di sini?”
Pemuda itu hanya menggeleng perlahan. Dia tak punya jawaban.
Penjaga itu melangkah mendekat, mencengkeram kepalanya, menatap dengan mata tajam penuh penghinaan. “Manusia sepertimu tidak pantas berada di Dunia Sempurna ini.”
Pemuda itu tersenyum getir. “Dunia Sempurna...” gumamnya pelan. “Kau benar... aku memang tak pantas di sini.”
Anjing itu mengangkat tongkat emasnya tinggi-tinggi, lalu mengayunkannya cepat.
SIUUUTTTT!!!
TENG! KLAANG! SKRIIIK!!!
Tongkat itu terpental ke udara, memantul di antara batu dan bunga. Sosok Manusia Cahaya muncul di depan pemuda itu, menangkis serangan dengan satu gerakan cepat.
“Belum waktunya dia pergi,” ucap Manusia Cahaya itu datar, penuh wibawa. Dia mengepalkan tinjunya, lalu...
WHOSS!!!
Tinju itu menghantam perut anjing itu dengan keras, membuatnya terpental jauh—menembus deretan bunga hingga lenyap di kejauhan.
Dalam sekejap, puluhan penjaga bermunculan dari balik pepohonan dan semak berbunga. Ada yang berwujud kucing bersayap, burung raksasa, harimau. Mereka semua menyerang tanpa ragu.
Manusia Cahaya bergerak secepat kilat. Setiap tebasan, setiap gerakannya meninggalkan jejak cahaya putih.
TENG! KLAANG! SKRIIIK!!!
THUD!!!
Dalam hitungan detik, semua penjaga terhempas, terkapar di tanah, tak berdaya. Pemuda itu hanya bisa mematung, menatap dengan mata membulat. Kagum, takut, dan takjub bercampur jadi satu.
Lalu bumi bergetar. Udara mengaum. Suara langkah-langkah raksasa menggema di kejauhan. Awan-awan mulai berputar, menghitam, membentuk pusaran seperti badai hidup.
“Suara... apa itu? Astaga, lihat! Awan itu... badai!” seru pemuda itu panik.
“Bukan badai,” jawab Manusia Cahaya tenang, matanya menatap langit. “Itu... jutaan penjaga dunia ini. Mereka datang.”
Pemuda itu gemetar. Tubuhnya kaku oleh ketakutan. Sebelum dia sempat bergerak, Manusia Cahaya itu menggenggam tubuhnya dan melesat secepat kilat.
SIUUUTTT!!!
Dalam sekejap, taman bunga yang megah itu tertinggal jauh di belakang. Kelopak-kelopak beterbangan, harum bunga terbawa angin, sementara di langit, bayangan jutaan penjaga memenuhi cakrawala.
Suara gemuruh perlahan memudar. Hanya suara sungai susu dan madu yang tersisa, masih berbisik lembut di antara kehancuran yang nyaris datang.