ADA

Rian Nugraha
Chapter #20

Balasan Dunia

Kabut tipis berpendar lembut, memancarkan cahaya hijau kebiruan yang tak wajar, mengambang di antara pepohonan raksasa yang menjulang tinggi menembus langit kelabu.

Batang-batang pohon itu hitam legam, licin berkilau seperti obsidian. Mereka berkelok-kelok bagai urat nadi makhluk purba, dengan kulit kayu yang berdenyut pelan—seolah bernapas.

Daun-daunnya lebar dan berkilau seperti kaca, memantulkan bayangan yang bergerak meski tanpa angin. Dari pantulan itu, cahaya menetes dan berputar, menciptakan mozaik warna aneh: ungu pekat, merah darah, dan emas cair berputar perlahan di udara. Seakan hutan ini memiliki kesadaran sendiri.

Udara di sekeliling terasa berat. Setiap tarikan napas membawa aroma tanah basah, lumut yang menyengat, dan sesuatu yang manis—asing seperti madu dari bunga yang tak pernah dikenal manusia.

Dari kejauhan terdengar gemerisik halus. Bukan suara dedaunan, melainkan bisikan samar yang seolah keluar dari dalam bumi. Nada-nadanya rendah dan purba, sulit dimengerti, sarat kebijaksanaan kuno. Sesekali kilatan cahaya kecil menari di antara pepohonan seperti kunang-kunang. Gerak mereka terlalu teratur—membentuk pola spiral dan lingkaran—lalu menghilang begitu saja ketika diperhatikan terlalu lama.

Akar-akar pohon menjalar di permukaan tanah, berkilau seperti kristal hitam, bergerak pelan seolah menanggapi kehadiran sesuatu yang tak terlihat. Di beberapa tempat, genangan air bercahaya melayang di udara, memantulkan bayangan hutan dari sudut-sudut yang mustahil—seakan memperlihatkan sekilas dunia lain di balik permukaan realitas.

Jamur-jamur raksasa, setinggi manusia, tumbuh di sela batang-batang pohon. Dari tudung mereka, spora bercahaya melayang perlahan seperti salju berpendar, berkilau lembut, menciptakan ilusi bahwa waktu di hutan ini mengalir dengan irama yang berbeda.

Tak ada burung. Tak ada serangga. Tak ada tanda kehidupan selain desah lembut hutan yang bernapas sendiri. Keheningan itu sesekali dipecah oleh derit batang yang bergoyang tanpa sebab, atau tetesan air yang jatuh dari daun—tak pernah benar-benar menyentuh tanah.

Pemuda itu berdiri terpaku. Matanya menatap kosong, tubuhnya kaku di antara pepohonan yang seolah mengamati balik. Dia merasa telah tersesat, padahal baru saja melangkah masuk.

Manusia Cahaya yang membawanya ke tempat ini telah lenyap tanpa jejak. Kini dia benar-benar sendirian. Sendirian di tengah hutan yang terasa seperti mimpi buruk yang hidup.

“Hutan apa ini?” gumamnya lirih. Suaranya sendiri terdengar asing, seakan ditelan udara. “Sangat aneh… aku tak pernah melihatnya.”

Dia mulai melangkah—pelan dan hati-hati—menembus bayangan di balik pohon-pohon hitam itu. Sesekali dia berhenti, menahan napas saat terdengar gerakan samar. Desir, desis, atau sesuatu yang mengintip dari balik kegelapan. Dia tahu, di tempat seperti ini, bahaya bisa muncul tanpa bentuk, tanpa suara, tanpa peringatan.

Waktu berjalan tanpa arah. Jam, matahari, bahkan perasaan siang dan malam menghilang. Entah berapa lama dia berjalan—hanya langkah dan napasnya sendiri yang menjadi penanda waktu.

Hingga akhirnya, setelah perjalanan panjang, hutan itu mulai menipis. Cahaya berubah. Di ujung sana, kabut membuka sedikit, dan pemuda itu melangkah keluar ke sebuah savana luas yang diselimuti cahaya lembut—berbeda dari segala yang pernah dia lihat.

Hamparan rumput membentang sejauh mata memandang. Bukan hijau biasa, melainkan perak kebiruan, berkilau seperti sutra cair di bawah cahaya yang entah dari mana datangnya. Langit di atasnya tampak aneh. Bukan langit biasa, melainkan seperti kanopi tipis dari energi yang berpendar lembut.

Angin berembus pelan, membawa desau aneh yang bercampur dengan denting kristal halus. Seolah bumi di bawahnya menyanyi pelan dengan nada yang tak bisa dimengerti manusia.

Di kejauhan, gundukan-gundukan tanah bergerak perlahan, naik dan turun seperti dada makhluk raksasa yang sedang tertidur. Dari permukaannya, kristal-kristal kecil tumbuh liar, memancarkan warna yang mustahil ada di dunia biasa. Merah magma, biru neon, emas cair yang seakan menetes dari cahaya itu sendiri.

Pohon-pohon kecil tersebar jarang, bentuknya jauh dari wajar. Mereka tampak seperti struktur tulang—cabang-cabangnya ramping dan melengkung bagai tentakel—menahan buah-buah bercahaya yang tidak pernah jatuh. Buah-buah itu justru melayang pelan beberapa inci di atas tanah, berputar perlahan, seperti planet mini yang terikat pada orbit tak terlihat.

Cahaya dari buah-buah itu menari di permukaan rumput, menciptakan bayangan yang hidup, membentuk pola geometris yang bergeser dan lenyap jika dilihat terlalu lama. Seolah savana ini sedang mempermainkan persepsi—menggoda antara nyata dan ilusi.

Tak ada suara makhluk hidup, tempat ini terasa penuh. Angin membawa bisikan-bisikan halus, samar, seperti percakapan antara entitas tak kasatmata.

Setiap langkah di atas rumput perak terasa lembut dan hangat—seperti menginjak permadani hidup yang berdenyut pelan, merespons sentuhan dengan getaran lembut.

Di tengah savana itu, pemuda itu berdiri. Napasnya berat, matanya menyisir pemandangan yang tak masuk akal. Dia mendongak ke langit, lalu membeku.

Di atas sana, di balik cahaya berpendar, dua titik biru pekat menatapnya. Dua cahaya yang terlalu hidup untuk sekadar bintang.

Dia menyipitkan mata, mencoba memastikan apa yang dilihatnya. Perlahan, kebenaran itu terungkap. Dua cahaya itu adalah sepasang mata—mata dari sosok yang begitu besar hingga menelan langit di belakangnya.

Sosok itu bergerak. Setiap tarikan napasnya menghembuskan kabut tebal, seperti awan yang mengalir dari paru-paru gunung. Tubuhnya raksasa, berotot, bentuknya samar. Separuh bayangan, separuh energi.

Makhluk itu menatap tajam, seolah kehadiran pemuda itu telah dinanti sejak lama.

“Manusia...” Suaranya bergema di seluruh dataran, berat dan bergetar. “Aku sudah menunggumu…”

Pemuda itu terpaku. Lututnya gemetar, matanya membesar. Takut, bingung, juga terpikat oleh kebesaran yang berdiri di hadapannya.

Makhluk itu melangkah setengah inci ke depan—cukup untuk membuat udara di sekitar bergemuruh.

“Dunia ini akan membalas apa yang telah kau lakukan kepada alam...” suaranya semakin dalam, bergulung seperti badai yang sedang menahan amarah.

Pemuda itu tertegun. Kata-kata itu bukan sekadar ancaman; mereka membawa beban yang lebih dalam, lebih purba.

Keputusasaan telah lama menggerogoti hatinya. Dia menatap makhluk itu dengan mata yang mulai basah.

“Dunia... dunia... dunia...” suaranya pecah. “Selalu saja kalian mengatakan itu! Ini bukan duniaku! Tak ada urusannya denganku!”

Lihat selengkapnya