Ada Cinta Di Rumah Honai

Oleh: DENI WIJAYA

Blurb

Meskipun awalnya tidak disetujui oleh orangtuanya, selepas wisuda sarjana kedokteran, Intan tetap bersikukuh menerima tugas pengabdian sebagai dokter PTT di Oksibil, pedalaman Wamena, Papua. Oksibil merupakan kawasan zona merah, karena masih sering terjadi penyerangan antara gerombolan bersenjata dengan aparat keamanan baik TNI maupun kepolisian.
Dari kehidupan keluarga yang humanis, penuh kehangatan dan cinta kasih, dengan penuh keyakinan gadis muda itu berani meninggalkan semuanya untuk berangkat ke Oksibil dengan kehidupan masyarakat yang bertolak belakang dengan kehidupan yang dijalaninya selama ini.
Akhirnya dua bulan kemudian, Intan berangkat ke Wamena, Papua. Setibanya di Wamena, dia segera bertolak menuju Oksibil, wilayah tugasnya. Meski dengan segala keterbatasan peralatan medis dan obat-obatan, dokter Intan dibantu oleh Bertha, tenaga paramedis puskesmas untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat setempat.
Dalam sebuah acara Festival Lembah Baliem, secara tidak sengaja Intan bertemu dengan Bram, seorang pemuda tampan yang juga hobi fotografer. Bermula dari perkenalan singkat itu, telah menumbuhkan rasa suka di hati Bram kepada dokter cantik itu.
Pucuk dicinta ulampun tiba, rasa suka Bram tidak bertepuk sebelah tangan, ternyata Pratiwi juga memendam rasa yang sama terhadap Bram. Kedekatan mereka semakin terjalin hingga diketahui ternyata Bram adalah seorang remaja broken home yang terjebak narkoba. Dia melarikan diri dari masa rehabilitasinya di Amsterdam, Belanda.
Atas bujuk rayu Intan, akhirnya Bram memutuskan kembali meneruskan masa rehabilitasinya di Belanda dan menerima perjodohannya dengan Sandra, seorang gadis pilihan orangtuanya. Suatu malam, kejadian buruk dialami oleh Intan, dia diculik oleh sekelompok orang bersenjata dan menyekapnya di suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun. Dalam keadaan depresi dan trauma, dengan taruhan keselamatan dirinya, gadis muda itu dipaksa melakukan operasi bedah terhadap salah seorang pimpinan mereka yang barusaja tertembak oleh aparat kepolisian dalam penyerangan kemarin malam. Dengan todongan senjata api dan peralatan medis seadanya, dokter Intan melakukan operasi bedah untuk mengeluarkan beberapa butir peluru timah yang bersarang di tubuh salah seorang pemimpin mereka.
Akhirnya Intan dibebaskan secara diam-diam karena telah berhasil melakukan pertolongan medis kepada pemimpin mereka. Karena dedikasi dan pengorbanannya sebagai seorang dokter, Intan menerima beasiswa melanjutkan kuliah S2 di negri Van Orange, Belanda. Di Belanda, dia kembali dipertemukan dengan Sandi, sahabatnya yang sejak kecil tinggal bersama di sebuah panti asuhan sebelum dirinya di adopsi oleh keluarga Pak Thomas.
Bram memutupesawat terbang. Mengetahui akan hal itu, membuat Pratiwi histeris. Setelah sekian waktu tidak diketahui lagi soal keberadaan Bram, membuat Pratiwi depresi dan putus asa. Namun dia masih yakin dan berharap Bram selamat dan akan kembali menemuinya di Belanda.
Karena sebagai sahabat, meski dia harus mengorbankan perasaannya, Sandi terus berada di samping Pratiwi mencari tahu keberadaan Bram. Hanya satu yang menjadi harapan Sandi, dia ingin melihat Pratiwi bahagia, meski dia harus rela mengubur dalam-dalam rasa cintanya kepada Pratiwi.
Di sinilah pengorbanan Sandi sebagai seorang sahabat begitu besar, meski gadis yang dia cintai justru mencintai orang lain. Entah apa masih bisa Sandi berharap kelak Pratiwi mau menerimanya sebagai pendamping hidupnya.



Lihat selengkapnya