Adam and His Frustration

Hendra Wiguna
Chapter #22

Rob and Party

Sedan hitam yang lebih terlihat seperti rongsok itu meluncur di jalanan kota. Malam itu Philadelphia tidak tidur, hanya memejamkan mata sebentar lalu pura-pura buta pada apa yang terjadi di gang-gang belakangnya.

Mobil bercat biru yang hampir mengelupas, menunggu di trotoar dengan knalpot yang menggeram rendah. Derek duduk di balik setir, menatap kaca spion yang retak di sudut kiri. Jari kanannya memainkan pisau lipat yang bilahnya mengkilap kena lampu jalan. Di kursi belakang, Louise menyandar dengan rambutnya yang diikat asal.

Danny membuka pintu kemudian duduk tanpa kata. Tercium bau rokok dan bensin bercampur jadi satu. Mobil itu batuk beberapa kali sebelum meraung dan melaju.

“Sudah tahu kan toko incaran kita?” tanya Derek. Suaranya serak, seperti habis merokok semalaman. “Toko 24 jam yang itu. Sepi. Cuma ada satu orang jaga. Gampang.”

Danny tidak menjawab, begitu juga dengan Louise. Ia menatap jalan yang semakin gelap juga tiang lampu yang jaraknya berjauhan.

Toko itu berada di ujung jalan seperti kubus kaca yang terang sendiri di tengah kegelapan. Tulisan “OPEN 24 HOURS” berkedip merah, memantul di aspal basah. Tidak ada mobil lain. Tidak ada manusia lain. Hanya angin yang mendorong kantong plastik bergulir di trotoar. Derek mematikan lampu mobil dan memarkirnya di belakang gedung, di gang sempit yang bau sampah dan air kotor. “Kalian masuk,” katanya tanpa menoleh. “Saya menunggu di sini. Kalau ada apa-apa, saya klakson dua kali. Mengerti?”

Danny dan Louise turun. Kaki mereka menginjak tanah berbatuan yang berderak pelan di bawah sol sepatu. Pintu kaca toko itu bersih, tapi sidik jari di gagangnya banyak. Bel kecil di atas pintu berbunyi seperti denting piano begitu didorong. Suaranya nyaring di ruangan yang sepi. Di balik meja kasir, seorang pria paruh baya ras Asia sedang menyusun bungkus rokok ke rak. Punggungnya sedikit membungkuk, rambutnya sudah memutih di pelipis. Ia menoleh perlahan ketika mendengar bel. Wajahnya lelah, matanya sayu, tapi tidak curiga. Mungkin ia sudah terlalu sering melihat anak muda masuk hanya untuk menghangatkan diri dari dingin Philadelphia.

“Permisi, Pak,” panggil Louise. Suaranya dibuat seringan mungkin, tapi ujungnya gemetar.

Pria itu mengangguk kecil, lalu kembali ke rak rokok. Tangannya bergerak lambat, satu per satu. Di belakangnya, mesin kasir tua berwarna abu-abu berdiri diam, lacinya tertutup rapat. Danny bisa melihat tumpukan uang kertas di dalamnya dari celah sempit. Jantungnya berdegup kencang. Ia menelan ludah. Di saku jaketnya, pisau lipat terasa panas seperti bara.

Louise berjalan mendekati meja kasir. Danny mengikuti dua langkah di belakangnya. Ruangan itu berbau kopi basi dan lantai pel yang lembap. Rak-rak makanan ringan berdiri seperti saksi bisu. Pria itu masih membelakangi mereka, sibuk dengan pekerjaannya.

“Uang di kasir,” bisik Louise, kali ini lebih tegas.

Pria itu berhenti bergerak. Bahunya menegang. Perlahan ia berbalik. Tidak ada teriakan. Tidak ada perlawanan. Hanya tatapan lurus ke mata Danny. Tatapan itu aneh. Bukan takut. Bukan marah.

“Uangnya, Pak,” kata Danny. Suaranya pecah. Ia sendiri kaget mendengar suaranya. Pria itu mengangkat kedua tangan perlahan, lalu jarinya menekan tombol di bawah meja kasir.

Lihat selengkapnya