ADELINA

Rudie Chakil
Chapter #2

PROLOG

Suasana dingin dan sepi melingkupi waktu malam, di muka sebuah bangunan yang terdapat di tepi bukit. Vila sederhana yang dikelilingi pohon-pohon besar.

Wajah bulan purnama yang berlatar gelapnya lautan bintang sesekali hilang dan sesekali muncul di antara iringan awan. Tidak menyeramkan. Justru mengagumkan. Bias sinarnya seolah-olah berpadu bersama api unggun yang menemani nyanyian serangga hutan.

Jika ada pernyataan dari orang-orang tentang bulan yang terkesan feminin dan bintang yang terkesan maskulin, maka, pernyataan itu tidak sepenuhnya salah.

Ya, benar.

Bayangkan saja sendiri.

Entah siapa yang memulai, tetapi perihal ini memang tidak bisa dijawab secara gamblang mengenai kenapanya. Karena bulan dan bintang jelas tidak memiliki jenis kelamin.

Meski demikian, kita masih bisa membayangkan kalau bulan lebih cenderung pada sosok perempuan, dan bintang lebih cenderung pada sosok laki-laki. Hal tersebut juga bisa kita analogikan lewat sebuah hikayat.

Cerita di dalam cerita cinta. Tentang metafora dari bulan dan bintang. Tentang sesuatu yang berlainan namun merupakan pasangan. Tentang bulan purnama tertutup awan yang menemani wanita tua bertutur dongeng pada cucunya di samping perapian, di halaman sebuah vila.

"Setelah Hyang Wisesa mengabulkan doa pemuda itu untuk jadi orang kaya. Pemuda itu lalu melihat matahari yang bersinar cerah. Pemuda itu, merasa kalah sama matahari, karena sinarnya panas menyengat kulit. Dia kembali berdoa untuk bisa menjadi matahari. Matahari yang bersinar menerangi jagat."

Wanita tua beranjak dari balai bambu, kemudian mengambil potongan kayu dan melemparkannya ke api unggun. Sementara sang cucu masih duduk bersila di balai bambu, bagaikan tidak sabar untuk mendengar kelanjutan cerita. Padahal kala itu sudah larut malam.

Wanita tua duduk di tempat semula, kembali bertutur dongeng dengan suara sedikit parau.

Lihat selengkapnya