ADELINA

Rudie Chakil
Chapter #3

Mimpi Aneh

Perempuan berambut merah dengan pakaian gotik terlihat bergegas menuju pedalaman hutan. Ia berjalan seorang diri, melewati belantara sepi yang tak berpenghuni, hingga pandangannya terpukau pada satu area kosong yang dikelilingi belukar pepohonan, bertanah datar, dan terdapat rumpun bambu persis di tengah-tengah area tersebut.

Pohon bambu di sana tidaklah menjulang, melainkan hanya setinggi lima meter. Karakternya agak berbeda dengan tumbuhan bambu pada umumnya. Warna batangnya hijau pandan dengan bentuk seperti kue bolu atau kue putu yang panjang dan beruas-ruas. Diameter kecil seukuran batang tebu. Daunnya ungu muda. Di ujung daun berwarna merah menyala.

Perempuan Berambut Merah mengambil selembar daun bambu, meletakkannya di atas telapak tangan yang terbuka. Ia lantas melihat langit berwarna biru. Benar-benar biru metalik. Bersih, tanpa adanya matahari dan awan.

Keajaiban pun terjadi. Selembar daun di tangannya perlahan mengeluarkan cahaya kuning kehijauan. Namun baru saja ia memandang dengan rasa takjub, sekejap kemudian visualisasi dan latar belakang langsung berganti.

Perempuan Berambut Merah berdiri di bawah sebuah pohon besar. Di hadapannya terdapat gua vertikal, seperti sumur yang dalam. Ia pun melangkah gontai mendekati sisi lubang.

Seketika itu ia terpeleset dan terjatuh, merasakan tubuhnya terombang-ambing di dalam luweng yang tampak tak berujung.


Lina Caroline sayup-sayup membuka mata, tersadar akan mimpinya. Ia terbengong sesaat di ranjang berseprai kartun. Sungguh, mimpi aneh yang belum pernah ia rasakan. Dara dua puluh satu tahun itu serta-merta duduk dengan kedua kaki menekuk. Tatapannya mengambang ke arah tembok kamar. 

Cuma mimpi. Terima kasih, Tuhan. Ujarnya dalam hati sambil melirik ke langit-langit ruangan pribadi yang putih, bersih dan juga tertata rapi.

Ia membuka pintu balkon untuk menikmati kesejukan udara pagi, lalu duduk di pinggir tempat tidur menghadap cermin meja rias. Seorang gadis langsing berisi yang memakai piyama biru muda tampak di hadapannya. Pkirannya pun cepat meng-eksplore rentetan planing yang akan ia lakukan hari ini. Berupa temu janji dengan dua orang yang punya kepentingan berbeda.

Di mata orang-orang yang mengenalnya, Lina memang tergolong pribadi yang cukup berarti. Bagaimana tidak? Ia merupakan sosok gadis jelita yang punya reputasi baik, kredibel, sopan, sekaligus menyenangkan. Pun ia mampu bersikap cair terhadap orang tua, sebaya, atau kepada anak-anak.

Hari ini ia telah bersetuju untuk ketemuan dengan dua orang yang tidak terlalu penting baginya. Sebenarnya, bisa saja ia menolak, tetapi budaya 'enggak enakkan' sudah melekat pada dirinya semenjak kecil. Ia enggan untuk menolak permintaan siapa pun, kecuali sebuah permintaan dari orang-orang yang sebelumnya pernah mengecewakan dirinya, atau, ia telah mencium kepentingan egois dan punya maksud buruk. Lina pasti menolak dengan berbagai alasan. Di luar itu, ia pasti akan memberi kesempatan bagi siapa saja yang ingin berhubungan baik.

Pertemuan pertama adalah urusan kerja sama komersial dengan seseorang yang ingin memperkenalkan merk dagang berikut sebuah produk. Ke-dua, seorang laki-laki yang paham tentang pandangan Si Lina pada kehidupan, yang memohon padanya untuk bisa berbincang-bincang.

Kedua pertemuan tersebut diadakan di coffe shop miliknya. Caroline Coffe.

Saking cepat Lina punya daya pikir, perihal tentang apa-apa yang nanti akan ia bicarakan, juga tentang busana yang nanti akan ia kenakan telah terprogram dalam kepalanya saat baru bangun tidur.

Baiklah, Lina, berharaplah jika hari ini akan berjalan sesuai harapanmu. Tuhan pasti mendukungmu.

Batin Lina berkata-kata, bersamaan dengan tubuhnya yang beranjak dari tempat tidur.

Sebelum mandi, ia memberi makan ikan-ikan kecil berwarna biru yang ada di sudut ruangan kamar. Jika banyak perempuan muda seperti dirinya curhat dengan hewan peliharaan seperti kucing atau anjing, maka Lina juga suka curhat pada hewan peliharaannya. Ikan-ikan kecil berjumlah tujuh belas ekor di dalam akuarium bercahaya biru cerah.

Sebagai seorang perempuan muda, pemikirannya sudah jauh lebih dewasa. Intuisinya juga sangat peka. 'Sesuatu' di dalam dirinya kadangkala berbicara tanpa ia sadari. Itu terjadi karena ia seringkali menyelam ke dalam diri sendiri. Jadi, selain pintar untuk hal-hal yang bersifat duniawi, Lina juga mendalami hal-hal yang bersifat spiritual.

Gadis berambut lurus yang terlihat pantas memakai kaus putih celana Levis itu memandang serius pada sosok di dalam cermin. Saat berdandan, ia memang seringkali tanya-jawab dengan diri sendiri.

Apakah kamu pernah menyakiti dan merugikan orang lain?

Apakah kemarin kamu berbuat salah?

Apakah hari ini kamu akan menjadi orang yang lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan serupa itu senantiasa ditanyakan pada dirinya sambil terus mengingat kondisi yang terjadi belakangan ini. Benar-benar 'bercermin' dalam arti yang lebih dalam.

Namun terkadang, dogma yang ia pegang dari hasil pikirannya terkesan liar. Bayangkan. Baginya Tuhan hanya memperhatikan kehidupan di muka bumi setelah tugas-Nya selesai dalam mencipta.

Tuhan tersenyum, baginya sudah cukup, karena manusia sebagai makhluk sosial semestinya bersifat baik dan berbuat benar. Tuhan murka, ia menganggap Tuhan takkan pernah murka. Bukan lantaran sifat-Nya yang Maha Pengasih serta Maha Penyayang. Tuhan dianggap tidur olehnya. Atau minimal, Tuhan hanya menonton panggung kehidupan manusia saja. Tidak lebih.

Ya. Perihal tersebut adalah sesuatu yang wajar bagi mereka yang berpaham agnostik seperti Lina.

Lihat selengkapnya