Adi Karsa

E. Karto
Chapter #2

Adi Karsa Soemarto


Lelaki itu berdiri di depan cermin yang sedikit buram,menatap pantulan yang ia kenali sebagai sebuah peta biologis yang rumit.

Di usianya yang menginjak dua puluh empat tahun,Adi Karsa Soemarto atau Karsa,sebagaimana ia lebih suka dipanggil seringkali merasa dirinya adalah sebuah monumen hidup dari sebuah persatuan yang telah runtuh dua dekade silam.

Tingginya hanya seratus enam puluh lima sentimeter,sebuah warisan fisik yang sering membuatnya harus mendongak jika berbicara dengan kawan-kawannya. Kulitnya berwarna cokelat gelap,matang dan pekat seperti tanah di pesisir Jawa,persis seperti kulit ayahnya yang bangga akan darah Soemarto yang mengalir di tubuh mereka.

Namun,di atas tulang pipi yang tegas itu,terselip sepasang mata yang sedikit sipit sebuah kenang-kenangan visual dari ibunya yang berdarah Sunda.

Hal yang paling mencolok setiap kali ia menatap dirinya sendiri adalah sebuah tahi lalat kecil tepat di bawah mata kanannya. Ibunya pernah bilang,itu adalah tanda "tetesan air mata",sebuah mitos lama yang seolah meramalkan nasib Karsa.

Ingatannya tentang sang ibu hanyalah serpihan-serpihan kabur yang mulai memudar. Terakhir kali ia merasakan dekapan perempuan itu adalah saat ia masih berusia lima tahun. Perceraian orang tuanya bukan hanya memisahkan dua manusia,tapi juga membelah dunianya menjadi dua bagian yang tak pernah bisa disatukan kembali.

Sebagai anak tunggal,ia tumbuh dalam keheningan rumah yang didominasi oleh ketegasan adat ayahnya,tanpa kelembutan logat Sunda yang seharusnya menyeimbangkan hari-harinya.

Lihat selengkapnya