Dodi Hermanto adalah sebuah anomali dalam silsilah keluarga Soemarto. Sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, ia tumbuh di bawah bayang-bayang kedisiplinan yang kaku.
Ayahnya kakek Karsa adalah seorang anggota Brimob di zaman Orde Lama,sosok yang kehadirannya saja sudah cukup untuk membungkam seisi rumah.
Namun,di balik barak yang keras itu,Dodi adalah pengecualian.
Tubuhnya kecil gempal,tingginya hanya seratus enam puluh sentimeter bahkan lebih pendek lima sentimeter dari putranya,Karsa.
Kulitnya gelap pekat,terbakar oleh matahari yang seolah enggan beranjak dari pundaknya. Meski fisiknya tampak tangguh dan "setangguh baja",Dodi sebenarnya adalah jantung hati ibunya.
Di mata sang ibu,Dodi adalah anak emas yang paling disayang dan dimanja,yang selalu mendapat porsi lauk lebih banyak dan pembelaan paling depan setiap kali sang ayah mulai menghunuskan rotan disiplin.
Kemalangan nasib seringkali ironis. Sosok yang dulunya diteduhkan oleh kasih sayang ibu yang melimpah,kini justru harus menghabiskan sisa umurnya di bawah terik matahari yang tak kenal ampun.
Sebagai pegawai Dinas Perhubungan yang bertugas di lapangan,Dodi adalah manusia jalanan. Seragamnya seringkali kusam oleh debu knalpot,dan wajahnya selalu tampak lelah,seolah beban jalan raya berpindah ke kerutan di dahinya.
Ia adalah tipe lelaki yang bicara secukupnya,sisa dari didikan keras ala Brimob yang diwarisi ayahnya,namun memiliki kerapuhan yang ia sembunyikan rapat-rapat sejak kepergian istrinya.
Di mata Karsa,ayahnya adalah teka-teki. Dodi jarang sekali memuji pekerjaan rumah yang diselesaikan Karsa,tapi ia akan menghabiskan setiap butir nasi dan sesendok sambal terasi yang disiapkan anaknya tanpa sisa. Itulah cara Dodi berkata "terima kasih".
Ada rasa bersalah yang seringkali menghantui Dodi saat menatap Karsa. Ia tahu ia telah membiarkan anaknya tumbuh terlalu cepat,membiarkan jemari kecil itu mencuci baju dinasnya yang berat sementara ia sendiri berjuang mengatur semrawutnya lalu lintas.
Ia ingin memanjakan Karsa sebagaimana ibunya dulu memanjakannya,namun keadaan dan dompet yang tipis memaksanya untuk menjadi sosok yang dingin.
Dodi Hermanto adalah lelaki yang terjepit di antara dua dunia,kenangan masa kecil sebagai anak kesayangan yang penuh kasih,dan realitas dewasa sebagai duda yang harus menjaga satu-satunya harta yang ia miliki Karsa dengan cara yang ia tahu,melalui ketidakhadiran dan kerja keras yang tiada henti.
•••
Sebelum seragam dinas perhubungan yang kusam itu melekat di tubuhnya,Dodi Hermanto adalah penguasa trotoar yang tak kenal takut.
Tumbuh di dalam barak sebagai "anak kolong"sebutan bagi anak-anak aparat yang besar di lingkungan asrama Brimob membentuk mentalitas Dodi menjadi sesuatu yang tajam dan berbahaya.
Di sana,hukum yang berlaku sederhana: siapa yang paling berani memukul, dialah yang akan diikuti.
Dodi remaja adalah bagian dari kawanan pemuda yang merasa memiliki kota.