Adi Karsa

E. Karto
Chapter #4

Dukungan dari istana di gang sempit


Tahun ini membawa Karsa pada usia dua puluh empat tahun,sebuah usia di mana ia mulai bisa melihat ayahnya bukan lagi sebagai raksasa yang menakutkan,melainkan sebagai lelaki tua yang penuh kontradiksi.

Dodi Hermanto tetaplah Dodi yang dulu; emosional,bicaranya seringkali lebih cepat daripada pikirannya,namun memiliki cara mencintai yang sangat unik.

Karsa tidak akan pernah lupa saat ia lulus SD dan akan masuk SMP,atau saat ia bimbang memilih SMA. Di tengah ketidak pastian kemampuan finansial dan dompet yang kempes,Dodi pernah membanting pintu sambil berteriak,"Nggak usah sekolah lah! Pusing Bapak cari uangnya!"

Kalimat itu sempat mengiris hati Karsa kecil. Namun,ia kini paham bahwa itu bukanlah doa buruk,melainkan luapan frustrasi seorang ayah yang merasa gagal menjadi penyangga. Sebab,nyatanya, keesokan harinya Dodi akan berangkat kerja lebih pagi, mencari pemasukan sana-sini,hanya agar Karsa tetap bisa duduk di bangku kelas dengan seragam baru.

Kini,setelah Karsa lulus SMA,sebuah keajaiban terjadi. Dodi yang sumbu pendek itu justru menunjukkan kesabaran yang luar biasa terhadap pilihan hidup putranya. Saat kerabat yang lain mencibir karena Karsa tidak langsung mencari kerja kantoran,buruh pabrik atau masuk di restoran mengikuti jejak sepupunya, Dodi hanya diam.

Karsa memilih jalan sunyi: menjadi penulis freelance berita sepak bola.

Setiap malam,di sudut ruang tamu yang remang,Karsa akan berkutat dengan laptop tuanya,menganalisis taktik Gegenpressing atau mengulas bursa transfer liga-liga Eropa. Dodi tidak mengerti apa itu Expected Goals atau False Nine,tapi ia adalah orang pertama yang akan duduk di samping Karsa sambil menyodorkan segelas kopi hitam panas.

"Sudah ada yang baca tulisanmu hari ini,Sa?" tanya Dodi singkat suatu malam.

Lihat selengkapnya