Adi Karsa

E. Karto
Chapter #5

Ikrar dibalik layar


Di usia dua puluh empat tahun,Karsa seringkali mendapati dirinya merenung di depan layar ATM yang menampilkan angka saldo dengan lima nol di belakangnya.

Bagi sebagian orang di kota besar,angka dua digit di rekening tabungan mungkin hanya setara dengan harga sebuah gawai keluaran terbaru. Namun bagi Karsa,angka itu adalah benteng pertahanan. Ia adalah simbol dari malam-malam tanpa tidur saat ia merangkai kata demi kata tentang strategi lapangan hijau,dan bukti bahwa ia tidak lagi hidup dari belas kasihan takdir.

Karsa merasa dirinya sudah berada di posisi yang stabil. Ia memang belum mampu membeli rumah sendiri atau membangun istana untuk ayahnya,namun ia tidak lagi merasa dikejar-kejar oleh ketakutan akan hari esok.

Penghasilannya sebagai penulis freelance berita sepak bola mengalir dengan ritme yang teratur. Setiap artikel yang ia kirimkan ke portal olahraga besar bukan sekadar hobi,melainkan kepingan-kepingan kemandirian yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit.

Ada rasa bangga yang menyelinap setiap kali ia bisa membayar uang kontrakan tepat waktu tanpa harus melihat ayahnya mengerutkan dahi karena pusing memikirkan biaya.

"Bapak nggak usah mikirin bayar rumah bulan ini,biar Karsa saja," ucapnya ringan suatu sore.

Kalimat sederhana itu adalah kemewahan tertinggi yang pernah ia rasakan. Bisa memberi tanpa diminta,dan memiliki tanpa harus berutang.

Di dalam kamar kontrakannya yang hanya berisi kasur lantai dan tumpukan buku,Karsa merasa cukup sukses.

Sukses baginya bukan tentang kepemilikan aset,melainkan tentang hilangnya rasa cemas. Ia tidak lagi harus menghitung koin untuk sekadar makan mi instan di akhir bulan. Ia punya tabungan cadangan yang bisa ia gunakan jika sewaktu-waktu ayahnya jatuh sakit atau jika ada kebutuhan mendesak lainnya.

Stabilitas ini adalah peluk yang hangat setelah masa kecilnya yang dingin dan penuh ketidakpastian. Ia menyadari bahwa meski ia tidak bisa memilih lahir di keluarga yang utuh atau kaya raya,ia berhasil menciptakan dunianya sendiri yang kokoh.

Seringkali,saat ia duduk di teras kecil rumah kontrakannya sambil menyesap kopi,Karsa menatap langit gang yang sempit. Ia tahu perjalanannya masih panjang. Masih banyak mimpi yang ingin ia raih,termasuk memberikan rumah yang benar-benar milik mereka sendiri suatu saat nanti.

Namun untuk saat ini,dalam keheningan sore dan saldo yang aman di rekening,Karsa merasa sudah menang. Ia telah berhasil menjinakkan kemiskinan yang dulu sempat mengancam akan menelannya bulat-bulat.

•••

Lihat selengkapnya