Adi Karsa

E. Karto
Chapter #6

Kilau dibalik saku dan amarah dibalik pintu


Penghujung tahun datang dengan hawa dingin yang menusuk tulang,namun di dalam dada Karsa,ada api kecil yang menyala hangat.

Selama berbulan-bulan,ia telah bekerja melampaui batas biasanya. Ulasan pertandingan liga-liga top Eropa ia kerjakan hingga butir keringat dingin menetes di dahi pada jam tiga pagi.

Hasilnya bukan sekadar angka di rekening,melainkan sebuah kotak beludru kecil yang kini ia simpan di laci terdalam mejanya.

Di dalamnya melingkar sebuah cincin emas. Harganya mungkin tidak setara dengan koleksi para pesohor,namun bagi Karsa,itu adalah representasi dari ratusan ribu kata yang ia ketik dan ribuan jam kesabaran yang ia kumpulkan. Cincin itu adalah tiketnya untuk mengetuk pintu rumah Dian.

Malam itu,Karsa sudah menyusun kata-kata di kepalanya. Ia ingin bicara pelan-pelan pada ayahnya,Dodi Hermanto. Ia ingin meminta restu,sekaligus memberitahu bahwa tabungannya sudah cukup untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.

Ia ingin meyakinkan ayahnya bahwa ia tidak akan meninggalkan lelaki tua itu,melainkan ingin membawa anggota keluarga baru ke dalam hidup mereka yang sepi.

Karsa melirik jam dinding. Pukul sembilan malam. Biasanya ayahnya sudah pulang sejak jam 3 sore dengan aroma debu jalanan yang khas.

Terdengar suara motor tukang ojek tetangga mereka membawa ayahnya berhenti di depan kontrakan. Bunyi standar motor yang dihentakkan ke semen terdengar lebih keras dari biasanya.

Karsa segera bangkit,berniat menyambut sang ayah dengan segelas air putih hangat dan senyum yang sudah ia siapkan.

Namun,begitu pintu kayu kontrakan itu terbuka,suasana hangat yang dibangun Karsa seketika runtuh.

Dodi Hermanto masuk dengan wajah yang gelap,lebih pekat dari malam di luar sana. Matanya yang merah bukan karena kantuk,melainkan karena amarah yang tertahan di balik rahang yang mengatup rapat. Ia membanting sepatunya ke atas meja plastik hingga menimbulkan bunyi dentuman yang mengejutkan keheningan gang.

"Bapak kenapa?" tanya Karsa hati-hati,suaranya mengecil.

Dodi tidak menjawab. Ia hanya menggeram,melepas seragam Dishub-nya dengan kasar hingga salah satu kancingnya terlepas dan menggelinding di lantai. Aroma amarah itu begitu menyengat,mengingatkan Karsa pada masa-masa kecilnya saat ayahnya pulang setelah terlibat pertengkaran di pangkalan.

Niat Karsa untuk menunjukkan cincin itu seketika surut. Kotak beludru di laci mejanya terasa sangat jauh sekarang. Ia sadar,malam ini bukan waktu yang tepat untuk bicara tentang masa depan dan cinta.

Ada sesuatu yang terjadi di jalanan sesuatu yang telah membangkitkan kembali sisi beringas Dodi Hermanto yang selama ini sudah coba ia jinakkan demi Karsa.

Karsa hanya bisa berdiri mematung di sudut ruangan,memandangi ayahnya yang napasnya masih memburu. Rencana indahnya untuk melamar Dian harus tertelan kembali oleh mendungnya wajah sang ayah yang membawa badai dari luar rumah.

•••

Lihat selengkapnya