Awal tahun baru datang dengan ketidakpastian yang mencekik. Dodi Hermanto bolak-balik ke kantor dinas seperti hantu yang mencari nisan,menagih kepastian tentang posisi kerja di PJU yang tak kunjung jelas. Di rumah,Karsa berkali-kali menanamkan satu mantra: "Sabar,Pak. Jangan buat keputusan saat marah. Biarkan mereka yang memecat Bapak,jangan Bapak yang keluar."
Namun,di gedung dinas itu,Dodi dikelilingi serigala berjas. Staf-staf di sana,entah karena instruksi siapa,mulai membisikkan racun.
Mereka menakut-nakuti Dodi tentang jam kerja PJU yang tak manusiawi. "Bisa saja jam satu pagi dipanggil benerin kabel putus pas hujan lebat,Pak. Dan di sana nggak ada uang sampingan,cuma gaji pokok yang mepet," kata mereka.
Puncaknya adalah siang itu. Dodi dipanggil ke ruangan kepala dinas. Provokasi demi provokasi dilontarkan,merendahkan harga diri seorang lelaki yang sudah mengabdi puluhan tahun. Di bawah tekanan,rasa takut akan masa depan,dan amarah yang kembali membuncah,Dodi melakukan kesalahan fatal yang paling ditakuti Karsa.
Ia menandatangani surat pengunduran diri.
Saat Dodi pulang dan meletakkan salinan surat itu di meja kayu mereka,Karsa merasa seluruh dunia yang ia bangun runtuh seketika.
"Bapak sudah tanda tangan,Sa. Daripada Bapak dihina terus di sana, mending Bapak keluar dengan kepala tegak,sama bapak juga gk mau punya masalah sama bu Tika yang udah baik sama bapak. Kasian dia terus ditekan sama kepala dinas" ucap Dodi dengan napas memburu,masih merasa tindakannya adalah sebuah kepahlawanan.
Karsa hanya bisa menatap surat itu dengan mata nanar. Ia tidak marah,ia tidak berteriak. Namun,dadanya terasa sesak luar biasa. Dalam hukum ketenagakerjaan yang sedang ia pelajari,surat itu adalah "vonis mati" bagi perjuangannya. Dengan mengundurkan diri secara sukarela,peluang untuk menuntut hak-hak yang selama ini tidak dibayarkan,atau menuntut pesangon,sirna begitu saja. Secara hukum,Dodi dianggap pergi dengan kemauan sendiri.
"Pak..." suara Karsa terdengar parau,lebih rendah dari biasanya. "Kenapa Bapak nggak tunggu sebentar lagi? Karsa sudah bilang, haram hukumnya Bapak tanda tangan surat itu."
"Tapi mereka keterlaluan,Sa! Bapak dihina!" bela Dodi, suaranya mulai meninggi.