Beberapa minggu pertama,rutinitas baru itu tampak berjalan lancar. Dodi berangkat pagi-pagi sekali dengan jaket lusuhnya,kembali ke habitat aslinya di terminal.
Ia pulang dengan beberapa lembar ribuan yang lecek,namun wajahnya tampak lebih hidup. Karsa membiarkan hal itu,meski hatinya selalu was-was setiap kali mendengar suara klakson bus dari kejauhan.
Namun,ketenangan itu pecah pada suatu sore yang terik.
Dodi pulang dengan langkah yang menghentak. Ia tidak melepas sepatunya di pintu,melainkan langsung duduk di kursi plastik dengan napas yang memburu. Matanya merah,dan tangannya gemetar menahan amarah yang hampir meledak.
"Bapak kenapa lagi?" tanya Karsa,sambil menutup laptopnya. Ia sudah bisa menebak: aspal telah memuntahkan ayahnya kembali dengan amarah.
"Kurang ajar,Sa! Supir ingusan,baru kemarin sore megang stir sudah berani merendahkan Bapak!" bentak Dodi.