Adi Karsa

E. Karto
Chapter #10

Percikan yang belum padam


Memasuki bulan ketiga di tahun itu,rumah kontrakan itu akhirnya benar-benar menemukan ritme kedamaiannya. Dodi Hermanto tampaknya telah menyerah pada aspal. Ia tak lagi mengenakan jaket lusuhnya setiap pagi. Sebaliknya,ia kini lebih sering terlihat di pos ronda ujung gang,bergabung dengan bapak-bapak pensiunan dan pengangguran lainnya.

Kadang mereka hanya duduk melamun memperhatikan kucing lewat,atau jika hari sedang senggang, mereka akan bermain kartu remi hingga suara azan Magrib memanggil atau hingga dini hari jika memulai di selepas isya. Dodi tampak lebih santai; ia tak lagi harus memikul beban harga diri jalanan yang melelahkan. Ia cukup menjadi "mas/om Dodi",warga senior yang sesekali berbagi cerita lama tentang zaman Orde Baru sambil menyeruput kopi sachet pemberian warga lain.

Stabilitas ini adalah berkah bagi Karsa. Karir menulisnya sebagai analis sepak bola sedang berada di puncak performa. Beberapa portal olahraga besar mulai menjadikannya penulis tetap dengan kontrak yang lebih menjanjikan. Dengan kondisi rumah yang tenang dan keuangan yang makin kokoh,pikiran Karsa kembali melayang pada kotak beludru di laci mejanya.

Sudah hampir tiga bulan ia dan Dian tidak bertukar pesan secara intens. Kesibukan Karsa mengurus urusan dinas ayahnya dan masa pemulihan Dian pasca-resign membuat jarak di antara mereka terasa sedikit lebar.

Lihat selengkapnya