Gema takbir Idul Fitri baru saja berlalu seminggu yang lalu. Suasana kemenangan masih terasa di gang sempit kontrakan mereka,dengan sisa-sisa toples kue kering yang mulai kosong di atas meja.
Karsa merasa ini adalah waktu yang paling tepat. Hatinya sudah mantap. Ia sudah berlatih menyusun kalimat di depan cermin selama berhari-hari untuk bicara pada ayahnya tentang Dian.
Pagi itu,Karsa sudah menyiapkan sarapan bubur ayam hangat. Ia berniat membuka obrolan setelah ayahnya menyesap kopi moka pertamanya. Namun,saat ia mengetuk pintu kamar Dodi,yang ia temukan bukan sosok lelaki tua yang siap bercanda,melainkan tubuh yang terkulai lemas dengan wajah sepucat kertas.
"Pak? Bapak kenapa?" Karsa panik,menyentuh dahi ayahnya yang terasa dingin namun berkeringat.