Adi Karsa

E. Karto
Chapter #12

Undangan akhir sebuah penantian


Setelah satu malam yang panjang di rumah sakit dan dua botol infus yang habis menetes ke nadi Dodi,Karsa akhirnya bisa membawa ayahnya pulang.

Sepanjang hari itu,Karsa menjadi perawat yang paling telaten. Ia menyuapi ayahnya bubur atau makanan apapun yang ayahnya mau makan,memastikan obat diminum tepat waktu,dan membantu ayahnya ke kamar mandi. Bakti Karsa tak bercelah,meski di saku celananya,rencana lamaran itu terasa semakin panas menuntut kepastian.

Keesokan paginya,sinar matahari masuk menembus jendela nako kontrakan mereka. Karsa terbangun dengan perasaan sedikit lebih ringan karena kondisi ayahnya sudah mulai stabil. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal.

Sebuah notifikasi muncul. Nama Dian.

Jantung Karsa berdegup kencang. Ia langsung terduduk di atas kasur lantainya,mengucek mata,dan membuka pesan itu dengan harapan besar. Namun,seketika dunianya seperti berhenti berputar. Udara di dalam kamar kontrakannya mendadak habis.

"Aku harap kamu bisa datang ya,Sa!"

Kalimat sederhana itu diikuti oleh sebuah file PDF. Saat Karsa menekannya,muncul sebuah desain digital yang cantik dengan warna pastel yang lembut. Di sana,tertulis nama Dian bersanding dengan sebuah nama lelaki yang tak pernah Karsa kenal. Seorang lelaki yang ternyata lebih dulu memantapkan diri,yang lebih dulu mengetuk pintu rumah orang tua Dian,sementara Karsa masih sibuk menjinakkan badai di rumahnya sendiri.

Perut Karsa mendadak mulas. Rasa panas dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. Ia menatap kotak beludru di laci mejanya yang kini terasa seperti sebuah monumen kegagalan.

Cincin itu,yang ia beli dengan ribuan kata dan jutaan harapan,kini tak akan pernah menemukan jari manis pemiliknya.

Karsa menarik napas panjang,mencoba menahan sesak yang merayap di tenggorokan. Ia teringat janji Dian untuk memantapkan diri,dan ia menyadari bahwa Dian tidak salah. Dian hanya menunggu lelaki yang berani datang, dan lelaki itu bukan Karsa.

Dengan jemari yang sedikit gemetar namun tetap berusaha tegar,Karsa mengetik balasan. Ia tidak ingin terlihat hancur. Ia adalah Karsa,penulis sepak bola yang terbiasa melihat tim jagoannya kalah di menit-menit akhir.

"Hahaha,akhirnya datang juga ya waktunya,Dian," Karsa mulai mengetik,menyembunyikan luka di balik tawa digital. "Semoga semua lancar dan aku pastiin aku akan datang ke sana."

Setelah mengirim pesan itu,Karsa meletakkan ponselnya. Ia menoleh ke arah ruang tengah,melihat ayahnya yang masih tertidur lelap. Ia tidak marah pada ayahnya yang jatuh sakit. Ia tidak marah pada Dian yang memilih orang lain. Ia hanya kecewa pada waktu yang tak pernah memihaknya.

Karsa beranjak dari kasur,menuju dapur untuk menyeduh kopi hitam tanpa gula minuman yang paling mewakili perasaannya saat ini. Pahit,namun harus tetap ia telan. Di rumah kontrakan kecil itu,Karsa menyadari satu hal pahit: dalam hidup,tidak semua perjuangan berakhir dengan kemenangan, dan terkadang, menjadi "layak" saja tidak cukup jika keberanian kalah cepat oleh takdir orang lain.

•••

Lihat selengkapnya