Adi Karsa

E. Karto
Chapter #14

Keropas di balik topeng


Ada jenis kesedihan yang tidak meledak,melainkan mengendap seperti lumpur di dasar sumur.

Bagi Karsa,kepergian Dian adalah lumpur itu. Empat tahun lalu,saat Nilda pacar pertamanya meninggal dunia,Karsa hancur oleh takdir Tuhan. Namun kini,ia hancur oleh keputusannya sendiri yang selalu mendahulukan orang lain hingga ia terlambat mengetuk pintu yang ia tuju.

Karsa mulai sering melamun di depan laptop yang menyala. Kursor di layar berkedip-kedip seolah mengejeknya,menanti kata-kata yang tak kunjung lahir. Analisis taktik sepak bola yang biasanya mengalir deras dari jemarinya kini terasa hambar.

Apa gunanya membahas kemenangan tim lain jika ia sendiri adalah pecundang di pertandingan hidupnya sendiri?

Ruang kontrakan yang dulunya terasa sebagai "Istana" kini berubah menjadi penjara yang menyesakkan. Karsa seringkali tertangkap mata oleh ayahnya sedang menatap laci meja yang kini kosong cincin itu sudah ia jual,namun bekasnya masih membekas di sana.

"Sa,itu ada telpon masuk bukan?hape kamu Bunyi terus dari tadi," tegur Dodi suatu siang,melihat Karsa hanya diam memandangi jendela nako.

Karsa hanya bergumam tanpa minat. Ia tahu itu adalah teguran dari editor portal olahraga. Sudah tiga tenggat waktu (deadline) ia lewatkan. Artikel tentang bursa transfer musim panas yang seharusnya menjadi ladang uangnya terbengkalai begitu saja.

Satu per satu,pekerjaan freelance yang ia rintis dengan susah payah mulai lepas.

"Maaf Karsa,karena ketidakteraturan pengiriman artikel belakangan ini,kami memutuskan untuk memutus kontrak kerjasama kita," bunyi salah satu email yang akhirnya ia baca.

Lihat selengkapnya