Desember atau akhir tahun membawa curah hujan yang tinggi di kawasan Cipanas.
Kabut tebal seringkali turun lebih awal,menyelimuti gang-gang sempit dan membuat udara di dalam rumah kontrakan mereka yang baru saja selesai direnovasi terasa lembap. Lantai yang meledak itu kini sudah ditambal semen baru,namun bau sisa banjir masih samar tercium.
Karsa berdiri di ambang pintu,menatap rumah itu. Pemilik kontrakan yang sangat baik memang tak langsung menagih uang kontrakan dan langsung mempersilahkan Karsa dan ayahnya langsung mengisi.
Tetapi Karsa yang tak mau punya hutang langsung memberikan uang sewa bulan pertama untuk kembali menempati bangunan tersebut.
Uang hasil mengangkut pasir dan mengecat vila ternyata tak pernah cukup tuk membayar bulan-bulan berikutnya. Tabungannya sudah nol,dan teman-teman yang meminjam uangnya dulu seolah hilang ditelan bumi.
Ia merogoh saku celananya,mengeluarkan sebuah ponsel pintar yang selama ini menjadi saksi bisu karirnya sebagai penulis.
Layarnya sudah retak di sudut,namun fungsinya masih sempurna. Itulah satu-satunya barang berharga yang ia miliki.
"Jual dulu aja,Sa. Siapa tahu nanti ada gantinya kalau kamu sudah nulis lagi," bisik Karsa pada dirinya sendiri. Kalimat itu terasa sangat pahit di lidahnya. Bagi seorang lelaki,menjual barang kesayangan untuk sekadar bertahan hidup adalah tamparan keras bagi harga diri.
Di sudut ruangan,sebuah tas laptop kusam tergeletak. Itu adalah pilihan yang lebih logis jika ia ingin mendapatkan uang lebih banyak. Laptop itu memiliki spesifikasi tinggi, jauh lebih mahal daripada ponselnya. Namun,setiap kali jemari Karsa menyentuh resleting tas itu,ia merasa ada aliran listrik yang menyentuh nuraninya.
Laptop itu bukan sekadar alat kerja. Itu adalah pemberian Nilda,mendiang kekasihnya,lima tahun silam. Nilda memberikan itu agar Karsa bisa mengejar mimpinya menjadi penulis hebat.
Bagi Karsa,menjual laptop itu sama saja dengan menjual janji terakhirnya pada Nilda. Ia merasa barang itu sudah bukan lagi miliknya,melainkan amanah yang harus ia bawa sampai mati.
Sore itu,Karsa berjalan menuju sebuah toko ponsel kecil di pasar Cipanas.Ia meletakkan ponselnya di atas etalase kaca dengan tangan yang sedikit gemetar.