Malam Ramadhan tahun itu terasa begitu panjang bagi Karsa. Di dalam kamar kontrakannya yang hanya diterangi lampu redup,ia berbaring menatap langit-langit yang warnanya sudah tidak rata.
Perutnya masih terasa hangat setelah berbuka dengan gorengan seadanya,namun jiwanya terasa kosong melompong.
Tanpa ponsel untuk mengalihkan perhatian,pikiran Karsa berlari liar ke masa lalu. Ia menyalakan pemutar musik tua satu-satunya teknologi sisa yang masih berfungsi dan memutar lagu Di Akhir Perang karya Nadin Amizah.
Suara lembut Nadin memenuhi ruangan,dan setiap liriknya terasa seperti sembilu yang menyayat namun juga membalut luka.
"Perlahan telah kau ajarkan cara menerima rasa baik buruk yang kupunya..."
Suara itu membawa sosok Nilda kembali ke hadapannya. Nilda,perempuan yang percaya pada bakat Karsa saat Karsa sendiri masih ragu. Nilda yang membelikannya laptop itu dengan pesan singkat namun abadi: "Tuliskan dunia lewat matamu,Sa."
Karsa memejamkan mata. Ia ingat bagaimana Nilda selalu memanggil sisi "jahat" dalam dirinya rasa rendah diri,keputusasaan,dan amarah lalu menjinakkannya hingga Karsa merasa dunia tidak lagi menyakitinya.
Namun kini,Nilda sudah tiada,Dian sudah milik orang lain,dan Karsa sendiri sedang sekarat secara karir.
Ia bangkit dari tempat tidur,meraih tas laptop pemberian Nilda yang sudah agak berdebu. Ia membukanya,menyalakan mesinnya yang mengeluarkan suara kipas berisik. Di layar yang berpendar itu,Karsa membuka folder lama bertajuk Draft Novel. Ada puluhan file yang tak pernah ia selesaikan; cerita-cerita tentang cinta yang gagal, tentang seorang anak yang mencari arti rumah,dan tentang takdir yang suka bercanda.
Jemari Karsa menyentuh keyboard. Ia ingin menuliskan bagaimana rasanya "bahagia sepenuhnya" sampai ia merasa lega,seperti lirik lagu yang sedang berputar. Ia ingin membuktikan pada almarhumah Nilda bahwa "perang" dalam dirinya telah usai bahwa ia sudah menerima kemiskinannya,menerima kegagalannya,dan menerima kesendiriannya.
Namun,setelah mengetik satu kalimat,tangan Karsa berhenti.
"Hari ini,aku tidak lagi mengejar apa-apa..."
Karsa terdiam. Kalimat itu menggantung. Ia kembali melamun,menatap kursor yang berkedip-kedip di layar putih yang kosong. Pikirannya kosong. Jiwanya terlalu lelah untuk berimajinasi. Realitas sebagai kuli angkut pasir di siang hari rupanya telah menghisap habis energi kreatifnya.
Ia ingin merasa lega,ia ingin sampai "di sana" ke tempat di mana hatinya tidak lagi sakit melihat kenyataan. Tapi malam itu,Karsa hanya bisa duduk mematung. Di akhir perang pribadinya,tidak ada sorak sorai kemenangan.
Yang ada hanyalah seorang lelaki di Cipanas yang sedang mencoba memaafkan dirinya sendiri,di depan sebuah laptop tua yang menjadi saksi bisu bahwa ia pernah memiliki seseorang yang sangat mempercayainya.
Laptop itu tetap menyala hingga fajar menyingsing,menampilkan halaman putih yang bersih,seputih kepasrahan Karsa di bulan suci ini.
•••
Malam itu,dinginnya Cipanas terasa sampai ke tulang,namun Karsa tidak sanggup berdiam diri di dalam rumah.