Malam itu,Karsa tidak pergi ke masjid. Tubuhnya terlalu remuk setelah seharian mengangkut batang kayu di salah satu vila.
Ia memilih melaksanakan salat tarawih di rumah,di atas sajadah lusuh yang warnanya sudah memudar.
Dodi,ayahnya,bersikeras ingin ke masjid karena merasa badannya sedikit lebih segar setelah berbuka dengan teh manis hangat.
"Bapak ke masjid dulu ya,Sa. Mau dengar ceramah," pamit Dodi sambil mengenakan sarung terbaiknya.
Karsa hanya mengangguk pelan. Ia mulai bertakbir. Di dalam kesunyian kamar,Karsa mencoba menenggelamkan semua rasa benci,rasa kalah,dan air matanya di pos ronda tadi malam ke dalam doa.
Ia ingin khusyuk. Ia ingin percaya bahwa Tuhan masih mendengarnya.
Baru memasuki rakaat keempat,saat Karsa sedang berada dalam posisi sujud yang lama,suara riuh terdengar dari depan pintu. Suara langkah kaki yang terburu-buru dan bisikan-bisikan cemas memecah keheningan rumah.
"Assalamu’alaikum! Sa! Karsa!" suara Pak RT memanggil dengan nada panik.
Jantung Karsa mencelos. Ia membatalkan salatnya seketika sesuatu yang belum pernah ia lakukan. Ia berlari ke pintu depan dan menemukan pemandangan yang membuat dunianya seolah runtuh untuk kesekian kalinya.
Dodi,ayahnya,sedang dipapah oleh Pak RT dan dua orang pemuda masjid. Wajah Dodi sangat pucat,matanya terpejam rapat,dan tangannya mencengkeram lengan Pak RT dengan sangat kuat seolah ia sedang berada di atas kapal yang berguncang hebat.
"Tadi pas baru rakaat kedua,Bapak kamu limbung,Sa. Untung ketangkap sama jemaah sebelah. Katanya pusing banget,dunia kayak muter," jelas Pak RT sambil membantu membaringkan Dodi di kasur ruang tengah.
"Pusing banget, Sa... Bapak... gelap semua," bisik Dodi dengan suara gemetar. Ia bahkan tidak berani membuka mata karena setiap kali kelopak matanya terbuka,seluruh isi ruangan seolah berputar dengan kecepatan tinggi,membuatnya mual luar biasa.
Karsa terpaku di samping tempat tidur. Sajadah yang tadi ia duduki masih terhampar di kamar sebelah,seolah mengingatkannya bahwa permohonan kekuatannya baru saja dijawab dengan ujian baru.
Ia melihat tangan ayahnya yang kurus dan bergetar. Rasa takut yang murni merayap di dada Karsa. Vertigo bagi orang tua seusia Dodi bukan perkara sepele; itu adalah tanda bahwa tubuh ayahnya sudah mencapai batasnya.
"Maafin Bapak,Sa... Bapak bikin susah lagi," gumam Dodi pelan,air mata merembes dari sudut matanya yang terpejam.
Karsa tidak menjawab. Ia hanya meraih tangan ayahnya,menggenggamnya erat,sambil berusaha mengatur napasnya sendiri agar tidak ikut meledak dalam tangis. Di kepalanya,ia mulai menghitung sisa koin di dompetnya.
Tidak ada uang untuk dokter malam ini. Tidak ada uang untuk menebus obat resep vertigo yang mahal.
Di tengah malam Ramadhan yang dingin itu,Karsa menyadari bahwa "perang" yang ia kira sudah usai di lirik lagu Nadin Amizah,ternyata baru saja memasuki babak yang paling berdarah.
Ia berdiri di antara bakti yang tulus dan kantong yang kosong melompong. Malam itu,sujud Karsa yang terputus berganti menjadi jaga semalam suntuk,menatap wajah ayahnya yang kesakitan sambil merutuki takdir yang seolah tak memberinya napas sedikit pun untuk sekadar merasa tenang.