Adi Karsa

E. Karto
Chapter #19

Cahaya yang dikira


Selepas malam penuh kejujuran itu,suasana di rumah kontrakan Karsa berubah total. Dodi tak lagi menggerutu saat pusing melanda.

Ia mulai belajar untuk bernapas panjang,beristighfar,dan mengikuti setiap instruksi Karsa dengan patuh.

Keajaiban kecil pun mulai terjadi; seiring dengan tenangnya batin Dodi,tekanan darahnya mulai stabil dan serangan vertigonya perlahan berkurang frekuensinya.

Karsa pun kembali ke jalanan dengan semangat yang berbeda. Meski ia masih memikul karung semen,mencuci sepatu,dan mengecat pagar-pagar yang dingin,beban di pundaknya terasa lebih ringan karena ia tak lagi harus menghadapi amarah ayahnya di rumah.

Di tengah peluh dan debu,satu per satu pintu rezeki yang sempat tertutup mulai terbuka lewat celah yang tak disangka-sangka.

Suatu sore,saat Karsa sedang beristirahat di pinggir pasar,seseorang menepuk pundaknya. Itu adalah salah satu teman lamanya yang dulu meminjam uang saat Karsa masih berjaya sebagai penulis.

Lihat selengkapnya