Dunia Dodi kini sering kali berkhianat. Tanpa peringatan,lantai semen di kontrakan itu bisa mendadak miring,membuat dinding-dinding seolah berputar cepat dalam pusaran vertigo yang kejam.
Ia hanya bisa mematung,mencengkeram pinggiran tempat tidur dengan buku jari yang memutih,menunggu hingga badai di dalam kepalanya mereda dan gravitasi kembali pada tempatnya.
Namun,bukan hanya itu yang kini menghuni tubuhnya. Ada rasa sakit yang lebih tajam,sebuah denyut panas di bagian bawah perut yang selalu datang sebagai "hadiah" setelah ia memaksakan diri.
Setiap kali Dodi lupa akan usianya saat ia bersikeras ikut mengangkat batu kali saat kerja bakti di lingkungan atau menggeser lemari pakaian rasa sakit itu akan muncul,menusuk-nusuk dari dalam seperti sembilu yang tertinggal di rongga perutnya.
Dodi sering kali tertangkap basah oleh Karsa sedang meringkuk di atas kasur,tangannya menekan kuat bagian bawah perutnya dengan wajah yang pucat pasi. Keringat dingin akan membanjiri keningnya yang keriput,sementara napasnya tersengal-sengal menahan perih yang tak kasat mata.
Penyakit itu kini menjadi bayangan yang setia,menunggu Dodi melakukan satu gerakan ceroboh untuk kembali mengingatkannya bahwa raga yang dulu perkasa di jalanan itu kini hanyalah sebuah mesin tua yang sudah terlalu banyak mengalami kerusakan.
•••
Sore itu,Cipanas seolah sedang berduka. Hujan turun dengan intensitas yang mengerikan,menghantam atap genteng kontrakan dengan suara gaduh yang memekakkan telinga.
Di dalam keremangan kamarnya,Karsa sedang merapikan beberapa pasang sepatu tetangga yang baru saja ia cuci,ketika sebuah suara lirih dari arah kamar memecah konsentrasinya.
"Aduh... Karsa... sini,Nak. Karsa... anak Bapak..."
Suara itu bukan sekadar rintihan pusing vertigo yang biasa. Itu adalah erangan dalam,penuh tekanan,yang lahir dari bagian paling bawah perut Dodi. Karsa melempar sikat di tangannya dan berlari masuk ke kamar ayahnya.
Ia menemukan Dodi sedang meringkuk,kedua tangannya mencengkeram perut dengan sangat kuat. Wajahnya pucat pasi,lebih putih dari tembok semen di belakangnya.
"Kenapa,Pak? Bapak kenapa? Bagian mana yang sakit?" tanya Karsa,suaranya gemetar hebat karena panik.
"Aduhh... sakit sekali,Sa... Gak kuat,Bapak gak kuat..." ucap Dodi terbata-bata.