Adi Karsa

E. Karto
Chapter #21

Mencintai dari jarak aman


Selama lima belas tahun,sosok Ibu bagi Karsa hanyalah fragmen memori yang kabur seperti klise film tua yang warnanya sudah menguning.

Namun,takdir memiliki cara unik untuk menyatukan kembali yang terpisah. Lima tahun lalu,lewat perantara sepupunya (anak dari Uwa Karsa) yang tak sengaja bertemu sang Ibu saat berkunjung ke kampung pacarnya,kotak pandora itu terbuka kembali.

Ternyata,dunia memang sesempit itu. Ibu Karsa tinggal tepat bertetangga dengan calon mertua sepupunya.

Selama lima tahun terakhir,komunikasi kembali terjalin. Namun,Karsa bukanlah anak yang langsung menghambur dalam pelukan rindu yang meluap.

Ia memilih untuk menjaga jarak yang sangat terukur. Bukan karena dendam,bukan karena benci. Justru sebaliknya: Karsa menjaga jarak karena ia ingin tetap mencintai ibunya.

Karsa adalah pengamat yang ulung. Melalui percakapan telepon yang jarang namun intens,ia mulai memahami anatomi kegagalan rumah tangga orang tuanya dahulu. Karakter ibunya adalah antitesis dari Karsa. Sang Ibu adalah sosok yang sangat mementingkan status sosial,harta,dan yang paling berbahaya: apa kata orang.

"Sa,kamu masih nulis-nulis saja? Teman Ibu di sini anaknya sudah jadi manajer di bank. Masa kamu nggak mau coba?" suara ibunya di telepon seringkali terasa seperti duri kecil yang menyengat.

Atau di lain waktu,"Kamu kalau nanti ke sini,bawa oleh-oleh yang bagus ya,Sa. Malu sama tetangga kalau kamu datang tangan kosong."

Setiap kata yang keluar dari lisan sang Ibu membuat Karsa tersadar; jika ia terlalu dekat,ia akan mulai merasa jengkel. Jika ia terlalu sering mendengar keluhan tentang materi,ia akan mulai kehilangan rasa hormat. Maka,Karsa memutuskan untuk mencintainya lewat doa dan kabar seperlunya.

Lihat selengkapnya