Tahun 2025 membawa angin segar bagi banyak orang lewat program Gubernur Dedi Mulyadi yang menginstruksikan sekolah-sekolah untuk melepaskan ijazah siswa yang tertahan karena tunggakan biaya.
Berita itu sampai ke telinga Karsa lewat obrolan di pos ronda ketika siang hari. Harapan kecil sempat memercik di dadanya; mungkin dengan ijazah asli di tangan,ia bisa melamar menjadi staf administrasi atau editor tetap di Jakarta,meninggalkan debu semen Cipanas.
Namun,harapan itu membentur dinding beton bernama birokrasi sekolah lamanya.
Saat Karsa mendatangi SMA-nya dulu dengan pakaian yang paling rapi yang ia miliki meski warnanya sudah memudar ia justru disambut oleh wajah-wajah kaku di ruang tata usaha.
Mereka yang dulu mengenalnya sebagai siswa yang cerdas namun "bermasalah" secara finansial,tetap bersikeras pada aturan internal mereka.