Cipanas di pertengahan tahun masih sedingin biasanya,namun bagi Karsa,suhu udara bukanlah tantangan utama.
Tantangan terbesarnya ada di dalam rumah: Dodi,ayahnya,yang perlahan-lahan mulai kehilangan kemandirian jiwanya. Secara fisik,vertigo dan kolesterolnya terkontrol,namun secara kognitif,Dodi seperti sedang berjalan mundur menuju masa kanak-kanak.
Suatu pagi, Karsa mendapatkan pesan singkat lewat ponsel pemberian sepupunya. Sebuah tawaran pekerjaan di sebuah agensi konten di Jogja. Gajinya cukup besar,jauh melampaui upah kuli angkut pasir. Itu adalah tiket Karsa untuk keluar dari lumpur kemiskinan.
Karsa menatap ayahnya yang sedang duduk di teras,asyik memperhatikan ikan di dalam kolam milik pemilik kontrakan.
"Pak,Karsa ada tawaran kerja di Jogja. Boleh Karsa pergi?" tanya Karsa hati-hati.
Dodi menoleh,tersenyum lebar seperti anak kecil yang baru diberi permen. "Boleh,Sa. Pergi saja. Itukan pilihan kamu"
Jawaban itu justru membuat hati Karsa perih. Dodi tidak lagi mampu mencerna konsekuensi dari perginya Karsa. Ayahnya tidak sadar bahwa jika Karsa pergi,tidak akan ada yang mengingatkannya makan.
Pernah suatu kali Karsa harus bekerja hingga petang membantu resepsi pernikahan tetangganya dan hanya meninggalkan uang tiga puluh ribu rupiah di meja. "Pak,ini buat makan siang dan sore,ya. Jangan lupa beli nasi," pesan Karsa.
Sore harinya saat Karsa pulang,ia menemukan uang itu sudah habis,namun perut ayahnya kosong melompong. Di meja hanya ada satu bungkus rokok dan segelas kopi hitam yang sudah dingin.
"Bapak sudah makan?" tanya Karsa cemas.
"Belum,Sa. Bapak bingung mau beli apa. Jadi daripada pusing terus beli kopi sama rokok aja," jawab Dodi dengan wajah polos tanpa dosa.