Adi Karsa

E. Karto
Chapter #25

Memadamkan api dengan sabar


Kabar dicabutnya bantuan sosial menjadi sumbu pendek bagi jiwa jalanan Dodi yang selama ini tertidur.

Lelaki tua itu, meski fisiknya melemah,masih menyimpan bara api di dadanya. Setiap kali melihat pengurus RW atau petugas desa melintas di depan kontrakan mereka,rahang Dodi mengeras,matanya menyala penuh amarah.

"Kurang ajar mereka,Sa! Mereka pikir kita ini kaya? Lihat rumah ini! Lihat kaki Bapak yang gemetar! Bapak samperin besok,Bapak hajar mulutnya yang bilang Bapak punya pensiun!" geram Dodi sambil mengepalkan tangan kurusnya.

Karsa yang sedang menyeduh teh hangat terhenti. Ia melihat ayahnya berdiri,hendak melangkah keluar pintu dengan sisa-sisa kegagahan masa mudanya yang keliru. Karsa segera menghadang di depan pintu.

"Duduk,Pak. Istighfar," ucap Karsa tenang.

"Gak bisa,Sa! Ini soal harga diri! Mereka injak-injak kita!" Dodi mulai berteriak,wajahnya memerah.

Karsa menarik napas panjang. Ia tahu kelembutan saja tidak cukup untuk meredam api yang sedang berkobar ini.

Ia harus bicara dengan kenyataan yang pahit. Karsa sedikit menyentak bahu ayahnya,memaksa Dodi untuk menatap matanya dalam-dalam.

"Pak! Dengerin Karsa sekali ini saja!" suara Karsa meninggi,membuat Dodi tersentak diam. "Selama hidup Bapak,Bapak selalu pakai cara emosi buat selesaikan masalah. Bapak pikir dengan marah-marah,dengan pukul orang,masalah selesai? Sekarang Karsa tanya,apa semua itu berakhir jadi baik? Kenyataannya enggak, kan!"

Dodi tertegun,napasnya tersengal.

"Bapak sudah berapa puluh kali hilang pekerjaan karena gak bisa kontrol emosi? Bapak kehilangan Mama karena ego Bapak. Karsa dulu hampir gak lanjut sekolah karena Bapak ribut terus sama orang. Dan sekarang apa? Bapak mau masuk penjara di umur segini cuma karena mukul orang yang salah ketik data? Bapak mau ninggalin Karsa sendirian di sini?"

Lihat selengkapnya