Ramadhan tahun ini datang menyapa Cipanas dengan kabut yang lebih tebal dari biasanya. Bagi Karsa dan Dodi,ini adalah bulan puasa yang paling aneh secara logika manusia.
Karsa benar-benar sudah tidak memiliki pekerjaan pasti. Sisa-sisa tabungan dari cicilan hutang temannya sudah habis untuk menebus obat kolesterol Dodi bulan lalu. Ayahnya pun sama sekali tidak memiliki pemasukan setelah bantuan sosial itu resmi diputus.
Secara matematis,mereka seharusnya kelaparan. Secara logika,mereka berada di titik nadir yang mustahil untuk bertahan hidup.
Namun,keajaiban justru terjadi di dalam batin mereka.
Anehnya,perasaan was-was yang dulu selalu menghantui Karsa setiap malam ketakutan akan makan apa besok,kecemasan akan beras yang menipis perlahan menguap.
Ada ketenangan yang tidak masuk akal yang menyelimuti rumah kontrakan mereka.
Setiap kali mereka duduk bersama saat sahur dengan nasi dan lauk pemberian tetangga,atau berbuka dengan segelas air putih dan beberapa gorengan dan kue pemberian pemilik warung,Karsa dan Dodi saling bertatap muka dan tersenyum.
Mereka seolah sedang mempraktikkan sebuah ilmu tingkat tinggi: ilmu ikhlas yang paripurna.
"Pak," panggil Karsa suatu sore menjelang berbuka. "Apakan karsa bilang,bulan puasa gak perlu terlalu takut gak makan,nih udah waktunya mah ada. Lengkap malah"
Dodi mengangguk pelan sembari memakan makanan yang tersedia.
"Iya Sa Alhamdulillah ternyata udah waktunya mah"
Fabiayyi ala-i rabbikuma tukazziban... Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan