Beberapa hari setelah gema takbir Idul Fitri berlalu,Karsa duduk di teras rumah seorang teman lamanya,Rian.
Udara sore itu terasa segar,sisa hujan yang membasahi pucuk-pucuk pohon cemara. Rian,yang tahu betul rekam jejak Karsa sebagai penulis sepak bola yang dulu disegani,memulai percakapan yang selama ini dihindari Karsa.
"Sa,sejujurnya... apa cita-citamu ke depan? Lu mau begini terus?" tanya Rio sambil menyodorkan segelas kopi panas.
Karsa terdiam. Pertanyaan itu seperti palu yang menghantam dinding pertahanannya. "Gue nggak tahu,An. Saat ini fokus gue cuma satu: Bapak sehat,Bapak makan. Cita-cita itu rasanya kayak barang mewah buat orang kayak gue sekarang."
Rian menggelengkan kepala. "Tapi lu punya 'senjata',Sa. Tulisan lu itu punya jiwa. Kenapa lu nggak coba nulis novel lagi? Atau minimal bikin konten di platform digital. Lu jago riset,lu jago ngerangkai kata."
"Kuota saja gue nggak punya,An. HP gue juga sudah jadul begini," jawab Karsa sambil tersenyum getir,menunjukkan ponselnya yang layarnya sudah retak di beberapa sisi.
"Jangan jadi alasan," potong Rian cepat. "Kalau soal kuota,lu datang saja ke rumah gue tiap hari. Pakai WiFi sepuasnya. Gue nggak minta bayaran,gue cuma pengen lihat Karsa yang dulu balik lagi. Sayang kalau bakat lu cuma dipakai buat mikul semen di proyek."
Karsa tertegun. Tawaran Rian bukan sekadar bantuan WiFi gratis; itu adalah sebuah tantangan. Di dalam benaknya,fragmen-fragmen cerita yang selama ini ia pendam tentang kesunyian pos ronda,tentang dekapan dingin ayahnya,tentang ijazah yang tertahan mulai berputar kembali.
"Novel?" bisik Karsa pelan.