Di balik setiap baris kalimat yang diketik Karsa,ada bayang-bayang seorang wanita yang senyumnya tak pernah pudar dari ingatan.
Nilda. Mereka adalah dua kepingan teka-teki yang dipertemukan di bangku SMP,namun baru benar-benar menyatu saat seragam putih abu-abu mereka berganti menjadi pakaian bebas setelah kelulusan SMA.
Nilda adalah pembaca pertama Karsa. Sejak SMA,saat Karsa masih menulis ulasan pertandingan sepak bola antarkampung di buku tulis bergaris,Nilda sudah duduk di sampingnya,menyimak dengan mata yang berbinar.
"Sa,tulisanmu itu beda. Kamu nggak cuma cerita soal skor,tapi kamu cerita soal perjuangan orang di lapangan," ucap Nilda suatu sore di pinggir lapangan bola.
Nilda adalah orang pertama yang menanamkan benih keyakinan bahwa Karsa akan menjadi penulis besar. Ia sering berkhayal tentang Karsa yang duduk di studio televisi sebagai pundit sepak bola ternama,atau namanya yang terpampang di kolom olahraga surat kabar nasional. Keyakinan Nilda seringkali jauh lebih besar daripada kepercayaan diri Karsa sendiri.
Momen paling mengharukan terjadi saat Nilda mulai bekerja sebagai staf administrasi di sebuah toko bank. Gajinya lumayan,lebih dari cukup untuk ongkos dan membantu ibunya di rumah. Namun,selama hampir setahun,Nilda diam-diam menyisihkan lembar demi lembar uangnya. Ia berpuasa dari keinginan membeli baju baru atau sepatu yang sedang tren.
Suatu hari,ia datang menemui Karsa dengan sebuah kotak besar yang dibungkus kertas kado lusuh.
"Ini buat apa,Nil?" tanya Karsa bingung.
"Ini buat masa depanmu,Sa. Aku nggak mau lihat kamu nulis di buku tulis lagi atau pinjam komputer di warnet. Pakai ini untuk nulis ide-idemu. Aku yakin,dari mesin kecil ini,namamu bakal dikenal orang," ujar Nilda sambil menyerahkan laptop itu.