Cahaya lampu dari layar laptop Nilda kini tak pernah padam sebelum fajar menyingsing. Karsa menyadari bahwa dunia telah berubah cepat selama ia terpuruk,dan ia tak boleh tertinggal lebih jauh lagi. Dengan tekad yang bulat,ia mulai memecah fokusnya ke dalam beberapa lini kreativitas sekaligus.
Di pagi hari,ia tetap memeras keringat di mencari orang yang memerlukan jasa tenaga kasarnya sebagai kuli,demi memastikan piring ayahnya terisi.
Namun,saat senja tiba,ia akan bergegas ke rumah Rio,duduk di pojok teras yang tenang,dan terhubung dengan dunia melalui WiFi.
Pertama,ia fokus pada Novelnya. Sebuah karya fiksi yang ia beri judul "Sujud di Atas Pasir". Novel ini bukan sekadar cerita,tapi sebuah katarsis. Ia menuangkan seluruh luka,kemiskinan,pengkhianatan birokrasi,hingga dekapan dingin ayahnya ke dalam narasi yang sangat emosional.
Setiap bab yang ia selesaikan ia unggah di sebuah platform menulis daring,dan perlahan-lahan, jumlah pembacanya mulai merangkak naik. Komentar-komentar seperti "Tulisan ini punya nyawa" atau "Sangat relate dengan kehidupan" menjadi bahan bakar baru bagi semangatnya.
Kedua,ia kembali ke cinta pertamanya: Sepak Bola.
Karsa tidak lagi menunggu panggilan dari media besar. Ia membuat panggungnya sendiri.
Instagram & Facebook: Ia menulis ulasan taktis (tactical analysis) yang tajam tentang Liga 1 Indonesia dan liga-liga Eropa. Gaya bahasanya yang puitis namun teknis membuat analisisnya berbeda dari akun-akun lain.
TikTok: Dengan bantuan HP Rian yang lebih mumpuni,ia mulai membuat konten video pendek. Ia tidak menunjukkan wajahnya karena ia masih merasa malu dengan kondisinya yang kusam melainkan menggunakan potongan video pertandingan dengan narasi (voiceover) miliknya yang berat dan berwibawa.
Karsa membahas tentang filosofi permainan,tentang bagaimana seorang pemain bertahan harus memiliki kesabaran seperti seorang ayah,atau bagaimana sebuah gol adalah buah dari kerja keras yang tak terlihat di belakang layar.
"Gila,Sa! Konten lu yang bahas taktik Timnas kemarin tembus seratus ribu views!" teriak Rian suatu malam sambil menunjukkan layar ponselnya.
Karsa hanya tersenyum tipis. Ia teringat Nilda. Ia teringat janjinya.