Dua minggu telah berlalu sejak aroma melati di pernikahan Dian menyesakkan dada Karsa. Hidup kembali ke rutinitasnya; debu semen,sapaan pelatnas ayahnya,dan denting keyboard di malam hari.
Namun,sore itu,sebuah notifikasi di layar ponsel barunya membuat jantung Karsa berdegup tak keruan.
Dian: Karsa,aku sudah baca surat darimu. Terima kasih ya...
Karsa tertegun. Jari-jarinya yang kasar mendadak kaku. Pesan itu terus berlanjut.
Dian: Aku minta maaf untuk semuanya,Sa. Aku doakan kamu segera mendapatkan perempuan lain yang jauh lebih baik,yang bisa mengisi hatimu dan menemanimu berjuang. Kamu orang baik,kamu layak bahagia.
Karsa menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan untuk mengusir sesak yang tiba-tiba datang lagi. Ia tahu,"move on" tak semudah mengetik kata-katanya. Namun,ia tak ingin terlihat hancur.