Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi seorang gadis cantik bernama Amanda Nelson.
Di depan cermin rias, ia tersenyum lebar menatap wajahnya sendiri. Akhirnya, setelah tiga tahun berpacaran dengan Rama Raditya, ia akan resmi menjadi istri dari pengusaha muda itu.
"Manda, keluarga Rama sudah datang. Apa kamu sudah siap?" suara WO terdengar memanggil dari balik pintu.
Amanda mengangguk, menarik napas panjang. "Iya, saya sudah siap."
Ia keluar dari ruang rias, menenteng gaunnya yang sedikit terasa berat.
Lorong gedung yang dilalui Amanda terlihat sepi lantaran semua tamu sudah berkumpul di aula utama tempat akad pernikahan akan dilangsungkan. Ia melangkah pelan karena hak sepatunya yang cukup tinggi.
Tiba-tiba, di tikungan lorong, ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
BRUK.
Tubuhnya hampir oleng kalau saja tidak ditahan oleh dua tangan yang kuat dan kekar.
"Ah, hati-hati, Kak."
Amanda segera mendongak. Seorang laki-laki muda berdiri di depannya. Postur tubuhnya tinggi, kulitnya kuning sedikit gelap, dan rahangnya begitu tegas. Ia memiliki wajah yang mirip dengan Rama versi muda dan lebih... liar. Rambutnya sedikit berantakan dan dua kancing kemeja dibagian atasnya yang terbuka.
Laki-laki itu adalah Bara Raditya. Adik kandung Rama yang baru pulang dari luar kota dan baru bisa datang hari ini.
"Kamu... pasti Amanda, kan? Calon kakak iparku?" tanya pria itu. Suaranya terdengar berat dan ngebas.
Amanda mengangguk gugup. Ia mencoba melepaskan pandangannya. "Iya, saya Amanda. Kamu Bara, kan? Adiknya Rama?"
Bara tidak langsung melepaskan tangannya dari tubuh Amanda. Ia justru mempererat pegangannya sedikit. Matanya menelusuri Amanda dari atas hingga bawah. Tatapannya tidak seperti tatapan seorang adik ipar yang melihat kakak iparnya. Tatapannya berhenti cukup lama di leher Amanda, di belahan dadanya yang sedikit terlihat, lalu turun ke pinggang rampingnya.
Ia kemudian tersenyum miring.
"Cantik sekali," bisik Bara pelan, suaranya hampir tidak terdengar. "Beruntung banget ya Rama dapatin kamu."
Amanda seketika merinding. Bukan karena kagum, akan tetapi ia merinding karena merasa tidak nyaman. Jantungnya seketika berdebar kencang. Cara Bara menatapnya membuat ia merasa seperti dijamah, padahal Bara hanya menatap.
"Maaf, saya buru-buru. Permisi!" Amanda bergegas menarik tangannya dengan kasar.
Bara terkekeh pelan sembari melepaskan tangannya.
"Silahkan, Kakak ipar. Sampai ketemu nanti di pelaminan. Nanti saya akan duduk di barisan paling depan agar bisa melihat kamu dengan puas."
Amanda tidak menjawab. Tanpa menoleh lagi, ia langsung berjalan cepat menuju aula. Meskipun begitu, Amanda bisa merasakan kalau punggungnya masih ditatap oleh Bara.
Setibanya di aula, Rama langsung menyambut kedatangan Amanda dengan senyuman yang hangat. Rama begitu terlihat tampan, rapi, dan wangi.
"Sayang? Kamu kok pucat begitu? Kamu grogi ya?" tanya Rama sembari menggenggam tangan Amanda.
Amanda diam sejenak, lalu ia tersenyum. Senyum yang ia paksakan. Amanda melirik sekilas ke pintu aula. Bara baru saja masuk. Dan lagi-lagi, mata mereka bertemu. Bara mengedipkan sebelah matanya ke arah Amanda lalu menjilat bibirnya pelan.
Dengan cepat, Amanda langsung memalingkan wajahnya.
'Haruskah aku cerita ke Rama tentang perlakuan adiknya itu?' batin Amanda menatap Rama yang tampak bahagia.
Amanda menggeleng cepat. Ia membuang niatnya itu jauh-jauh. 'Nggak. Aku nggak mungkin memberi tau Rama. Aku nggak mau merusak hari spesial ini. Aku juga nggak mau hubungan Rama rusak dengan adiknya. Bisa saja kan Bara orangnya memang seperti itu?' batinnya lagi.
Amanda akhirnya memilih untuk diam. Ia menggenggam tangan Rama lebih erat.