
Benda itu semakin besar di pandangan Primus, dan kian besar lagi, hingga akhirnya sudah ada kira-kira empat puluh lima derajat di atas kepalanya, sekitar sepuluh meter di atas tanah. Bentuknya mirip dua cakram cembung yang saling menutup.
Ukurannya sangat besar. Dengan garis tengah sekitar dua puluh meter, dan tinggi kira-kira dua belas meter, wahana itu tampak setara dengan tiga lantai gedung. Seakan ada bangunan raksasa yang muncul tiba-tiba dan menghalangi seluruh pandangannya.
Cahaya birunya semakin menyilaukan, sampai-sampai Primus memicingkan mata sambil mengangkat tangannya untuk menghalau pijarnya yang gencar.
Pria bertubuh besar itu terkesima menyaksikan pemandangan luar biasa itu. Jantungnya berdegup kencang. Darahnya berdesir cepat ke seluruh tubuh. Dia merinding.
Nalarnya memintanya lari, tetapi rasa penasaran membuatnya tak beranjak. Dia memilih menanti apa yang terjadi selanjutnya.
Sekitar dua puluh meter dari posisi Primus berdiri, piring terbang itu perlahan turun. Saat berada satu meter di atas tanah, benda itu mengambang stabil. Suara dengungan halus terdengar menggetarkan udara.
Dari bagian lambung wahana, sebuah pintu terbuka secara otomatis. Cahaya cemerlang memancar dari dalam kabin. Seberkas sinar berbentuk persegi panjang tipis menjulur dari ambang pintu, ibarat karpet cahaya yang digelar dengan anggun, sampai ujungnya menyentuh permukaan tanah.
Sosok pria yang tinggi besar berdiri di pintu. Wajahnya tersamar oleh kilauan benderang yang memancar dari dalam kabin. Secara perlahan, tanpa langkah sedikit pun, badannya meluncur di atas cahaya putih itu, sampai kedua kakinya menapak tanah.
Primus menahan napas. Naluri tempurnya langsung bekerja: Jarak sepuluh meter. Target tidak bersenjata. Postur terbuka, tidak agresif....
Makhluk itu lebih tinggi sekitar lima belas sentimeter darinya. Untuk kali pertama dalam bertahun-tahun, Primus yang bertubuh kekar harus agak mendongak saat berhadapan dengan seseorang.
Makhluk asing ini mengenakan pakaian longgar berwarna perak metalik yang atasannya menyatu dengan bawahannya dan berkilau memantulkan cahaya. Ada sabuk yang melingkar di antara perut dan dadanya, bukan di pinggang seperti manusia pada umumnya.
Berusaha tenang, Primus bergeming ketika makhluk itu mendekat dan memandangnya lekat-lekat. Jantungnya berdebar-debar, sedangkan napasnya teratur, tapi berat. Terkesima sekaligus waswas bercampur aduk, dia mulai sadar sepenuhnya makhluk ini bukan manusia.
Makhluk itu mengangkat tangan kanannya dan membuka telapak tangan setinggi kuping sambil tersenyum. Bibirnya tidak berucap, tetapi Primus mendengar suara mental yang menggema jernih di kepalanya.
"Salam Primus. Saya Akon. Kami berasal dari gugus bintang yang kalian sebut Pleiades. Kami ingin berkenalan lebih dekat denganmu...."
Primus terperanjat.
Bagaimana dia bisa tahu namaku? Pleiades? Di mana itu?
Astronomi bukan bidangnya. Di akademi tentara, dia hanya belajar navigasi bintang yang sekadarnya untuk keperluan tempur. Sebatas itu.