Di hadapan Primus tiba-tiba muncul hologram Bumi dalam tiga dimensi. Begitu besar dan nyata, seolah dia benar-benar melayang di antara bintang-bintang. Bumi berputar perlahan. Dari kejauhan, planet itu bagaikan permata biru yang berkilau di tengah kegelapan jagat raya yang dingin.
"Planet kalian memang indah," suara Akon bergema lembut di benak Primus. "Tapi Bumi hanyalah sebutir debu di antara benda-benda angkasa yang tak berhingga di jagat raya. Lihat ini."
Akon membuka telapak tangannya lagi.
Hologram menampilkan citra planet Bumi yang semakin menjauh. Bumi bagaikan sebutir kelereng kecil, dan lama-lama menghilang dari pandangan, tenggelam di antara miliaran bintang.
“Luar biasa,” bisik Primus dengan mulut menganga.
Tayangan hologram berlanjut, menunjukkan kedudukan Galaksi Bima Sakti di antara jutaan galaksi lainnya di jagat raya yang mahaluas.
"Manusia hanyalah satu spesies di antara banyak makhluk cerdas di jagat raya. Ada berbagai spesies dan entitas kehidupan, baik yang terlihat dalam dimensi kita maupun yang menghuni dimensi yang berbeda. Baik yang damai maupun yang ganas," lanjut Akon secara telepatik.
Tampilan hologram melesat menuju ke sebuah galaksi jauh, kemudian mendekati sebuah sistem bintang kembar dengan tujuh planet yang mengitarinya. Proyeksi gambar mendekati sebuah planet yang atmosfernya kehijauan, lalu memperlihatkan hamparan hutan dengan pepohonan raksasa berwarna keunguan. Dahan-dahannya bertautan membentuk kanopi yang indah.
Burung-burung bersayap empat melayang di udara. Bulu mereka yang berkilau berganti-ganti warna setiap memantulkan cahaya matahari ganda itu. Hewan mirip rusa bertanduk berlarian di rerumputan merah muda.
“Wow,” Primus berdecak kagum.
Proyeksi hologram menghilang sesaat, lalu menampilkan pemandangan kota dengan bangunan-bangunan menjulang tinggi. Bentuknya tidak mencuat kaku, melainkan organik seakan tumbuh secara alami.
Beberapa bangunan berbentuk menyerupai kristal raksasa yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya.
Di sekitar sebuah bangunan yang berbentuk kubah, tampak lalu-lalang spesies yang berjalan tegak dengan dua kaki. Wajah mereka mirip manusia, tapi bertubuh kurus, berkulit hijau, dengan mata yang lebih bulat dan telinga yang lebih meruncing.
"Itu adalah peradaban di planet lain yang pernah kami kunjungi,” suara Akon kembali menggema di batin Primus. “Mereka adalah spesies yang maju dan cinta damai."
Primus terpukau, matanya tak berkedip sedetik pun. Tak pernah dia bayangkan pemandangan semacam itu sebelumnya.
Tiba-tiba hologram menampilkan kedatangan wahana antariksa berukuran raksasa di luar atmosfer planet itu. Ribuan objek terbang berbentuk bola metalik keluar dari lambungnya, lantas terbang menyebar ke pelosok planet.
Bola-bola metalik itu memancarkan tembakan bercahaya kemerahan ke bangunan-bangunan di kota tadi, sehingga musnah seketika.
Warga kota itu panik dan berlari mencari tempat berlindung, tapi bola-bola metalik itu memburu mereka dengan tembakan-tembakan yang melumerkan tubuh organik mereka.
Adegan-adegan ledakan, struktur bangunan yang hancur, jeritan ketakutan, wajah-wajah putus asa, dan tangisan yang memilukan, berganti-ganti di hadapan Primus. Seakan semuanya sedang terjadi tepat di depan matanya.
“Ya, Tuhan,” desahnya. Batinnya terguncang.
Gambar berikutnya adalah bangunan-bangunan yang telah luluh lantak. Mayat-mayat penduduk bergeletakan dalam keadaan hangus.
Tapi tidak sampai di situ. Ribuan prajurit bersenjata terbang keluar dari dalam bola-bola metalik menembaki penduduk yang masih hidup, meskipun sudah sekarat.
"Itu genosida," kata Primus dengan nurani yang tertusuk. Hologram itu begitu nyata, sehingga mengaduk-aduk perasaannya. Antara jijik dan marah bercampur menjadi satu. Sama sekali tiada etika dan moral dalam perang itu.