Adiwira: Invasi dari Bintang Viperos

Jun Prakoso
Chapter #4

Bab 4: Menyelaraskan Mutasi


Primus mengenang masa kecilnya. Waktu itu dia berusia sekitar 12 tahun.

Hari itu dia tengah bermain bola di lapangan terbuka bersama Rizal, teman sepantar. Tawa riang dan teriakan girang menemani keasyikan mereka. Namun, tak lama, kegembiraan itu berubah menjadi ketegangan.

Datang lima anak dua-tiga tahun lebih tua mendekat.

Seorang di antara mereka merebut bola. Kemudian dengan sengaja menendangnya keras-keras ke arah Rizal. Bola itu menghantam ulu hati Rizal. Bocah kurus yang langkahnya pincang akibat polio itu langsung jatuh ke tanah dengan suara ‘BUK’ yang menyakitkan.

“Aduh!” jeritnya merintih di tanah sambil memegang perutnya yang ngilu. Napasnya tercekik, wajahnya pucat pasi menahan perih yang melilit. 

“Aw! Si Pincang tidak bisa berdiri!” ejek seorang di antara mereka. 

Keempat teman lainnya tertawa sambil menirukan gaya Rizal terseok-seok.

Rizal yang terkulai lemas di atas tanah berpasir menunduk dalam. Air matanya membasahi debu di pipinya. Tangannya gemetar, tapi dia hanya bisa meringkuk di hadapan tubuh-tubuh yang jauh lebih besar.

“Aduh… anak mami menangis!”

Menyaksikan Rizal tak berdaya, dada Primus bergejolak. Dia maju merentangkan tangan untuk melindungi, meminta anak-anak itu berhenti.

"Sudah, sudah!"

Andi, anak yang paling besar dan paling tua di antara mereka, menyeringai sinis.

"Oh, kau sok jadi pahlawan ya? Berani?" Andi berjalan mendekati Primus sambil membusungkan dada di hadapannya. Maksudnya agar nyali Primus ciut. Kemudian tahu-tahu kedua tangannya menyentak bahu Primus secara kasar.

Primus terdorong selangkah, dan hampir terjatuh. Wajahnya seketika memerah karena marah. Dia merasakan desakan energi yang meluap dari pangkal lengannya, sehingga dia balas mendorong Andi sekuat tenaga. Perundung itu pun terhempas tiga meter dari tempatnya berdiri. 

BRUK!

Andi tersungkur. Punggungnya membentur tanah dengan keras sampai napasnya terputus. Meringis menahan sakit, dia mencoba bangkit. Dia tak mengira, tenaga Primus sekuat itu.

Primus menatap telapak tangannya dengan bingung. Dia sendiri tidak berniat mendorong sekeras itu.

Teman-teman Andi tidak menyangka pemimpin mereka dijatuhkan Primus dengan mudah. Mereka lantas mengeroyok dan memukuli Primus. 

Primus melawan dengan meninju dan menendang ke segala arah. 

BAK! BUK! BAK! BUK!

Dalam hitungan detik, para pengeroyoknya terkapar. Sambil memegangi bagian tubuh yang nyeri, mereka bergegas pergi lantaran ngeri.

Rizal terkesima menyaksikan laga Primus. 

Primus mengulurkan tangannya ke Rizal untuk membantunya berdiri.

Lihat selengkapnya