Primus tiba di rumahnya. Hawa pegunungan malam itu dingin. Dia melirik termometer di dinding.
Lima belas derajat, tapi badanku terasa membara. Efek mutasi, atau mungkin efek dari pengendalian mutasi, pikirnya.
Dia mandi supaya panasnya reda. Tiga puluh menit di kamar mandi dia berendam. Namun, panas di sumsum tulang belakangnya tak kunjung padam. Akhirnya, dia menyerah, dan merebahkan diri di ranjang tanpa pakaian. Keringat keluar dari pori-pori tubuhnya, membasahi seprai, padahal udara pegunungan sangat menusuk.
Namun, entah mengapa, dia sangat lelah, sehingga dia bisa tidur nyenyak. Dia bermimpi badannya seringan kapas, ditiup angin, dan melayang di udara.
Paginya, saat matanya terbuka, yang kali pertama dia lihat adalah langit-langit kamarnya terlihat terlalu dekat dengan wajahnya. Hidungnya nyaris menyentuh permukaan plafon yang berdebu.
Primus mengerjap bingung. Dia meraba sisi tempat tidur untuk bangun, tapi tangannya hanya menepuk udara kosong.
Seketika kesadarannya pulih. Dia menoleh ke bawah.
Jaraknya dari kasur sekitar dua meter. Tubuhnya mengambang mendatar di udara, sedangkan selimutnya menjuntai seperti tirai.
"Astaga!" dia tersentak.
Kepanikan itu mengacaukan alam bawah sadarnya. Organ gravitasi di perutnya berhenti bekerja begitu saja.
Tubuhnya terjun bebas menghantam kasur.
GUBRAK!
Pegas ranjang itu ambruk. Kasurnya amblas. Kaki-kakinya patah.
Primus mengumpat lantaran kekacauan itu. Dia duduk di lantai kayu menatap nanar ke dipannya yang hancur. Sialan, nanti malam aku terpaksa tidur di lantai.
Dia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.
"Hari pertama setelah diculik alien, situasi sudah kacau,” umpatnya pada diri sendiri.
Dia bangkit. Dia merasakan sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. Rasanya tenaganya begitu penuh, dan meluap-luap ingin dilepaskan.
Jantungnya berdetak kuat, memompa energi yang terasa tiada habisnya.
Aku butuh udara segar, pikirnya. Dia ingin membakar energi ini sebelum tubuhnya meledak.
Primus mengenakan kaos dan celana pendek, lalu berlari keluar rumah. Lingkungannya berada di pinggiran kota berbatasan langsung dengan kaki pegunungan yang asri. Udara pagi yang sejuk dan berkabut menyambutnya.
Dia mulai berlari kecil menyusuri jalan setapak yang menanjak.
Awalnya dia berniat lari santai. Namun, kakinya terasa gatal untuk memacu kecepatan. Dia mempercepat langkahnya. Anehnya, dia tidak lelah. Tanjakan curam yang biasanya membuatnya terengah-engah kini terasa jauh lebih mudah.
Dia berlari semakin kencang, melompati akar pohon dan bebatuan besar dengan kelincahan yang tidak masuk akal.
Wow... Badanku lebih lentur daripada biasanya!
Di sebuah tikungan jalan setapak dekat persawahan berundak, dia melihat seorang petani tua sedang kesusahan. Roda gerobak sorongnya yang penuh muatan karung pupuk terperosok ke dalam lubang lumpur yang dalam.
Sang petani, Pak Darto, tetangga jauhnya, sedang mendorong sekuat tenaga hingga wajahnya memerah, tapi gerobak itu tak bergeming.
"Mari saya bantu, Pak Darto," sapa Primus, memperlambat larinya.
"Eh, Nak Primus. Tumben lari pagi jauh sampai ke mari. Iya ini, berat sekali. Hujan semalam bikin tanahnya lembek," kata Pak Darto sambil menyeka keringat yang cepat dingin. "Hati-hati ya, ini butuh tiga orang, sudah terlalu dalam."
Primus mengangguk. Dia memegang gagang gerobak itu. “Sip, Pak? Satu, dua, tiga... angkat!”
Gerobak itu terangkat seolah tak berbobot. Bukan hanya rodanya, tapi seluruh gerobak beserta isinya terangkat dari lumpur setinggi dada Primus dengan sekali sentak. Karung-karung pupuk hampir terlontar karena dorongan yang hebat.
Ups!
"Waduh!" seru Pak Darto kaget, mundur selangkah. "Kuat amat, Nak! Jangan diangkat terlalu tinggi, nanti tumpah!"
Primus segera menurunkan gerobak itu pelan-pelan ke tanah yang keras. Dia sendiri kaget, tapi berusaha tersenyum. Tangannya tak pegal sedikit pun, padahal berat gerobak itu setidaknya seratus kilogram.
Pak Darto geleng-geleng kepala kagum. "Tenaga tentara memang beda, ya? Terima kasih loh, Nak. "
"He, he, lagi semangat pagi, Pak Darto. Semalam dapat tenaga banyak," kata Primus. Dia pamit melanjutkan lari, tapi kali ini waswas. Khawatir tenaganya di luar kendali.
Dia terus berlari hingga sampai di pinggir sebuah waduk yang luas. Air waduk tenang, memantulkan bayangan gumpalan awan dan pegunungan di sekitarnya. Sepi. Tiada orang di sini.
Primus memungut sebuah batu kali seukuran kepalan tangan. Dia menimang-nimangnya sejenak. "Seberapa kuat aku, ya?" bisiknya.
Dia mengambil ancang-ancang seperti pelempar bisbol lalu melempar batu itu sekuat tenaga ke tengah waduk.
SYUUUUUT!
Batu itu melesat dengan menimbulkan suara desing angin yang tajam.
Primus menunggu bunyi ‘plung’ air. Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Tapi batu itu melesat lurus, melintasi permukaan air sepanjang ratusan meter, bahkan terus melaju hingga menghantam tebing batu di seberang yang jaraknya hampir satu kilometer.
TAK!
Terdengar bunyi benturan samar dari kejauhan, diikuti kepulan debu kecil dari tebing batu yang dihantamnya.