Sembilan tahun kemudian.
Kecurigaan Klevin mengenai asal usul Masanton belum sirna. Ia memiliki terlalu banyak hal berbeda dalam dirinya. Sampai sampai jika Klevin kembali ke masa sembilan tahun silam. Rasanya masih akan cukup normal untuknya berpikir bahwa Masanton itu alien, vampir, drakula, manusia ajaib, atau korban rekayasa genetika. Terserah lah.
Tak ada sepercik pun emosi tersirat di wajahnya yang lumayan itu. Seperti patung batu tak bernyawa.
Di luar itu semua Masanton anak keren. Yang mengetahui segala keanehan Masanton hanya Klevin. Seperti saat istirahat tadi pagi. Masanton baru saja keluar dari perpustakaan. Itu menarik banyak siswi berkumpul di sekitar jalan yang akan ia lewati.
"Kalian ngalangin," ucap Masanton datar dengan tatapan sayu.
Pandangannya yang bengis sinis bak kismis yang kecut-kecut manis ala ala badboy gak punya hati dalam drama romansa mengguncang jiwa mereka.
"Kyaaaa!" Mereka berjingkrakan senang. Beberapa hampir terjatuh tak kuasa mempertahankan logika. Terus ditatap nanar punggung Masanton yang menjauh.
Pemuda itu menengok tanggung ke arah mereka. "Jangan diulangin, ya!" pintanya tanpa menatap mereka. Hanya tertunduk "imut" menatap lantai.
"WAAAY~ (〃>▽<〃)/* (〃>▽<〃)/* (〃>▽<〃)/*!!!" girang gadis-gadis itu seolah mendapatkan pemandangan akan surga dunia.