Masanton selalu terlihat dingin dan tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Mau bagaimana pun juga perasaannya wajahnyanya tak pernah berubah. Freakman. Namun, seaneh-anehnya Masanton. Ia seperti manusia suci. Untuk Klevin yang mengenalnya sejak kecil: ia belum pernah melihat Masanton melakukan hal buruk. Sebagai seorang pelayan Masanton memiliki filosofi harus selalu berada di sisi tuannya.
Sebagai manusia pastilah memiliki emosi. Keinginan. Yang ditakuti. Yang dihindari. Tapi, Masanton seolah tak memiliki itu semua. Ia melakukan dan menyelesaikan semuanya. Ia tak pernah menolak atau mengeluh. Untuknya: perintah Tuan adalah mutlak.
Kata nggak normal atau orang aneh seolah menjadi nama tengahnya. Seorang Masanton. Namanya hanya itu. Karena ia tak pernah mengatakan nama lengkapnya. Entah lupa, memang tidak ada, atau tidak mau. Ia hanya menjawab bahwa ia Masanton.
Masanton.
👥 👥 👥
Anak itu belum pulang. Sekarang sudah jam empat sore. Entah apa yang ia lakukan. Mungkin Klevin bisa menanyakannya. Toh, di hadapan Mario dan Klevin ia tak punya privasi.
"Bibi!" teriaknya. "Kalo si Masanton udah pulang suruh ke kamarku!!!" perintahnya.
Itu memang kebiasaannya. Hanya berteriak jika menginginkan sesuatu.
"Iya, Den!" jawab salah satu pelayan.
Lima belas menit kemudian pintu kamar Klevin terbuka. Kepala Masanton menyembul dari balik pintu.
"Ada apa?" tanya pemuda yang model rambutnya mirip seperti Andika Babang Tamvan itu.
Tangan Klevin mendayung. Memanggil. Masanton masuk dan duduk bersimpuh di lantai seperti yang Klevin perintahkan. Klevin dari atas tempat tidur bagai seorang raja. Dan ia budaknya.