Dikerjapkan matanya. Ia merasa kembali bernyawa. Diamati sekelilingnya. Plafon putih. Dinding putih. Lantai putih. Seprei putih. Selimut putih. Selang yang menusuk punggung tangan. Kini ia menyadari bahwa cairan infus tengah masuk ke dalam tubuhnya. Cairan yang sangat ia benci. Tanpa ragu dicopotnya selang itu. Darah kembali menetes. Mewarnai putih.
Suster terkejut melihat selang infus yang tercopot. "Kamu kenapa?" tanyanya.
"Di mana..."
"Temennya nunggu di luar," beritahu suster tanpa menunggu masanton menyelesaikan pertanyaannya.
Masanton melangkah keluar dari kamar. Sesampai di luar pandangannya mengintai seperti hewan buas yang mencari buruan. Ia sangat marah pada Klevin yang telah membawanya ke rumah sakit. Amarahnya meletus begitu Klevin muncul di hadapannya. Dilontarkan makian yang tadi hanya terucap dalam benak.
Didorong sebelah pundak Masanton. Menghentikan amarahnya. "Ngapain lo nusuk tangan lo gitu?" tanya Klevin.
"Apa pun yang gue lakukan gak akan ganggu lo, Vin. Gue jijik banget ama yang namanya dokter, rumah sakit, apalagi obat. Paham?" tanya Masanton balik.
Masanton berjalan melewati Klevin. Perasaannya sangatlah hancur. Ia memang suka melukai diri dan melihat darahnya sendiri. Satu hal saja: ia tak mau diobati. Pengobatan menyakitkan. Karena terlalu banyak luka yang mustahil disembuhkan.
Ia putus asa. Maka ia hidup di balik topeng kesempurnaan. Ia takut bisa mengingat masa lalunya. Seorang Masanton sudah lupa pada bagaimana rasanya memiliki perasaan.
Masanton kembali ke kediaman Mario menggunakan bus. Sesampai di kamar langsung ditelungkupkan tubuhnya di kasur. Ia sangat menyesal. Klevin pasti marah sekali. Sekarang sudah sangat malam. Pagi mungkin. Hari terpanjang dalam hidupnya.