Marsha sampai patah hati pada lelaki adalah hal yang sukar dibayangkan. Bahkan dengan apa pun. Ia gadis cerdas. Anak pejabat di Bank Indonesia. Yang terpenting... ia sangat cantik. Kecantikan wajahnya sering disejajarkan dengan Nyi Roro Kidul. Kulit putih mulus dengan tubuh langsing bak Lisa Blackpink. Garis wajah nyaris sempurna. Tubuh seperti Megan Fox. Rambutnya persis seperti wanita-wanita bintang iklan shampo. Namun, barusan... ia stres.
Dipandangi seluruh tubuhnya di depan cermin. "Baru pertama kali gue diperlakukan kayak gini," ucapnya tak terima.
Ditinggalkan cermin. Dibaringkan tubuhnya di kasur. Samar-samar bayangan wajah pemuda itu muncul dalam kepalanya. Ia terpesona seketika. Ditulis nama Masanton dalam buku hariannya. Marsha - Masanton. Ah, cocok. Mungkin mereka memang jodoh.
Yah, yah, bisa jadi.
TIDAK! Mereka pasti jodoh.
Harus diakui Masanton itu keren. Tapi, bukan yang tertampan. Masih ada cowok lain yang lebih ganteng dari Masanton. Klevin contohnya. Bukan cuma ganteng dia juga macho dan atletis. Apa yang menarik dari dia, ya? Masanton itu karismatik. Dan keren. Ketampanannya sukar dipahami logika. Aaahh...
Ia telentang. Membidik langit-langit dengan telunjuk, "Gue tembak lo besok."
👥 👥 👥
Esoknya peperangan untuk seorang Marsha dimulai. Seumur hidup ia belum pernah menerima cowok yang ingin jadi pacarnya. Yang selalu ia lakukan adalah: menerima terpaksa - menjalani seadanya - manfaatkan secukupnya - putuskan sebisanya. Ini pertama kali ia benar-benar naksir pada seorang cowok. Sialnya kenapa harus pada laki-laki yang sulit ia dapatkan? Seorang Masanton gitu.
"Heh, the true love never run smooth."
Asyik.
Waktu istirahat tiba. Dihampiri bangku Masanton. Kali ini ia membaca Zarathustra. Suatu buku yang menurut Marsha: baca judulnya aja males.
"Eh, lo!" panggilnya canggung. "Soal kemaren... ayo ikut gue!"
"Males banget," respon Masanton tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang tengah dibacanya.