Klevin uring-uringan. Sekarang sudah jam delapan malam. Dan Masanton belum pulang. Saat di sekolah Masanton juga tak menunggunya seperti biasa. Dicari ke kelas pun tak ada. Ia cemas jika anak itu sampai melakukan aktivitas anehnya di luar. Klevin tidak bisa membayangkan jika tengah malam Masanton pulang dengan tubuh bersimbah darah. Dan malah tertawa-tawa.
Masanton memang sakit jiwa.
Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Prtek prtek prtek. Direnggangkan persendiannya. Bersiap-siap jika anak itu muncul nanti. Ia bisa siap sedia turut menambahkan luka di badannya.
Bercanda. Klevin tak akan sekejam itu.
"Beneran tu anak. Sampe pulang gue patahin lehernya. Heh!" tekadnya.
Tapi, lebih kejam.
Tak lama kemudian pintu ruang tamu terbuka. Wajah Masanton muncul dari celah yang kecil. Berkata lirih, "Malem, Den..." Ia melangkah masuk perlahan. "Aku digebukin preman... tadi. Suer, Den," ucapnya membela diri mengingat ancaman terakhir Klevin.