AERITHRA: The Dark Ophius Crown

Maylyns
Chapter #1

Prolog

Malam masih panjang ketika erangan seorang wanita muda memenuhi ruangan itu.


Rambut peraknya yang basah menempel di pelipis, sementara napasnya terdengar berat dan tidak beraturan. Cahaya lampu minyak bergoyang pelan diterpa angin malam, memantulkan bayangan para Weaver yang bergerak cepat di sekeliling ranjang. Sejak beberapa jam lalu, mereka terus menuntun proses kelahiran yang semakin menguras tenaga sang Ratu. Setiap tarikan napas wanita itu terdengar seperti pertaruhan terakhir.


Keringat dingin membasahi tubuhnya. Jemarinya mencengkeram seprai dengan lemah setiap kali rasa sakit kembali menghantam. Namun, di tengah tubuhnya yang nyaris kehilangan tenaga, ia masih berusaha bertahan.


Hingga pada satu dorongan terakhir, tangisan bayi akhirnya pecah memenuhi ruangan.


Nyaring. Tajam. Hidup.


Seorang Weaver segera menyambut tubuh mungil itu dengan sigap, sementara beberapa lainnya mengembuskan napas lega yang sejak tadi mereka tahan.


"Putri kerajaan..." lirih salah satu Weaver.


Di dekat jendela kamar, seorang pria bertubuh tinggi berdiri dalam diam sejak awal proses itu berlangsung. Rambut hitam sebahunya jatuh rapi di balik jubah gelap kerajaan, sementara sorot matanya yang biasanya tajam kini perlahan melembut ketika mendengar tangisan kecil tersebut. Sebuah senyum tipis muncul di wajah Raja Therion Aerith—senyum yang jarang sekali diperlihatkannya kepada siapa pun.


Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama. Seorang Weaver senior yang sedang memeriksa kondisi sang Ratu mendadak membeku.


"...Tunggu."


Ruangan itu langsung hening. Weaver tua itu menempelkan telapak tangan ke dahi sang Ratu, lalu matanya melebar pelan.


"Inti mananya runtuh..." bisiknya pelan, nyaris tak percaya. "Cepat, tahan alirannya!"


Ketegangan langsung pecah.


Cahaya sihir bermunculan di sekitar ranjang ketika para Weaver bergerak tergesa-gesa. Aliran mana memenuhi ruangan, berusaha mempertahankan energi kehidupan sang Ratu yang mulai melemah sedikit demi sedikit. Namun ada sesuatu yang salah. Mana di tubuh wanita itu tidak beregenerasi. Energinya terus menghilang seperti air yang bocor dari wadah retak-perlahan, tetapi pasti.


Sang Raja melangkah mendekat. Untuk pertama kalinya malam itu, langkahnya terlihat ragu.


"Selamatkan dia," ucapnya rendah.


Tak ada yang menjawab. Para Weaver tetap berusaha mempertahankan aliran mana sang Ratu, tetapi cahaya sihir di sekitar tubuhnya mulai meredup satu per satu. Wajah-wajah mereka dipenuhi kecemasan yang semakin sulit disembunyikan.


Hingga akhirnya, ruangan itu benar-benar sunyi.


Sang Raja terduduk di sisi ranjang. Jemarinya menyentuh tangan istrinya yang mulai kehilangan hangat, lalu menggenggamnya erat seakan berharap masih ada kehidupan yang tertinggal di sana. Namun tidak ada. Wajah Ratu Scevenka terlihat damai di bawah cahaya lampu malam. Kedua matanya tertutup lembut, seolah ia hanya tertidur setelah perjuangan panjang yang melelahkan.


Tak seorang pun di ruangan itu berani bersuara. Bahkan para Weaver senior ikut menundukkan kepala.


Di sisi lain ruangan, bayi perempuan kecil yang baru lahir itu akhirnya berhenti menangis setelah tubuh mungilnya dibalut kain hangat. Ia hanya terdiam dalam pelukan seorang pelayan, memandangi dunia di sekelilingnya dengan sorot mata kecil yang tenang dan asing. Seakan sejak detik pertama kehidupannya dimulai, dunia telah meminta sesuatu yang terlalu mahal darinya.


Kabar kematian Ratu Scevenka menyebar ke seluruh Benua Arlenthia hanya dalam hitungan hari.


Istana Aerithra yang seharusnya dipenuhi perayaan atas kelahiran pewaris tunggal kerajaan kini justru diselimuti kain-kain duka. Bendera setengah tiang berkibar di sepanjang tembok ibu kota, sementara lonceng istana berdentang lambat sejak pagi hingga malam. Rakyat berkabung. Namun di dalam istana, suasana terasa jauh lebih berat daripada sekadar duka.


Raja Therion mengurung diri di ruang kerjanya sejak malam kematian sang Ratu. Beliau hampir tidak berbicara kepada siapa pun. Bahkan laporan pemakaman kerajaan dibiarkan menumpuk begitu saja di atas meja kayu besarnya.


Ruangan itu sunyi. Sang Raja hanya duduk menatap langit di balik jendela tinggi istana dengan sorot mata kosong, seolah sebagian dari dirinya ikut terkubur bersama wanita yang dicintainya.


Sementara itu, di sayap timur istana, putri kecil yang baru lahir itu dijaga ketat oleh para pelayan pilihan dan beberapa Weaver senior. "Bagaimana nasib sang putri nanti..." lirih seorang pelayan muda bernama Arwen sambil memandangi bayi yang tengah tertidur di ranjang kecil berukir emas. Matanya tampak memerah sejak pagi.


Pelayan lain di sampingnya menghela napas pelan sebelum menyentuh bahu Arwen. "Jangan bicara sembarangan," bisiknya hati-hati. "Dia pewaris Aerithra."


Arwen menunduk cepat. "Maaf..."


Namun tatapannya kembali jatuh pada wajah mungil sang putri. Bayi itu tertidur begitu tenang di tengah suasana istana yang dipenuhi kesedihan. Napas kecilnya naik turun perlahan, sama sekali belum memahami bahwa kelahirannya telah merenggut sosok yang paling penting di kerajaan ini.


Arwen menggigit bibirnya pelan. Di dalam hatinya, muncul keyakinan kecil yang bahkan tak berani ia ucapkan keras-keras—bahwa putri ini kelak akan tumbuh menjadi seseorang yang luar biasa kuat. Mungkin karena dunia telah mengujinya sejak hari pertama ia dilahirkan.


Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Lihat selengkapnya