Setengah jam kemudian mereka kembali berkumpul di kamar rawat Vanka, ditambah dengan kehadiran orang tua Vanka dan Leiden beserta keluarga kecilnya.
Pak Roby juga batal memaksa putrinya untuk pulang, karena di hadapan mereka sekarang terlihat suatu hal yang sangat mengharukan.
Vanka berhasil bangun dari komanya, namun sayangnya masih dengan membawa kabar yang sangat buruk.
Vanka kehilangan hampir keseluruhan dari ingatannya.
Ia hanya ingat kedua orangtuanya, Leiden, dan juga Jasmine? Vanka bahkan tidak ingat dengan Angel—istri Leiden.
Jasmine semakin terisak, ia sangat bersyukur lelaki itu masih mengingatnya, namun tak dapat dipungkiri dirinya juga sangat sedih mengetahui Vanka melupakan semua teman-temannya bahkan kakak iparnya sendiri.
"Kok kamu jahat, Van? Kamu nggak ingat aku sama sekali?" Angel terlihat tersedu-sedu sembari memeluk Vanka. Sungguh menyakitkan melihatnya, karena mereka semua tahu, jika Vanka, Leiden dan juga Angel sudah berteman dan saling menyayangi sedari kecil.
"Maaf ...." Vanka hanya bisa mengulang kata maaf terus menerus, ia masih lemas dan tatapannya juga masih kosong.
Sedangkan Ave dan yang lainnya masih tercekat, tak menyangka jika kabar baik bangunnya Vanka harus diiringi dengan kabar yang sangat buruk.
Ave menghela napas kasar, dadanya terasa sesak karena kembali merasa bersalah dengan lelaki itu. Ia juga kehilangan harapan memikirkan barang bukti yang ikut lenyap bersama ingatan Vanka.
Ave mendongak dengan mata berkaca, ia menatap Vanka yang sedang berbicara dengan Jasmine. Lelaki itu mengaku selalu mendengar suara Jasmine ketika menemaninya, ia juga bisa mendengar suara lain yang sangat familiar namun tak diketahuinya siapa pemilik suara itu.
"Sorry ..., gue belum bisa ingat kalian," lirih Vanka teman-temannya tengah menatapnya sedih.
"Nggak papa ..., ini cuma sementara, kan? Lo pasti bisa ingat kita lagi," ucap Rovero menghela napas kecil.
"Yoi, lo pasti ingat kita nggak lama lagi, apalagi gue! Pasti cepet deh ingatnya, secara kan karena gue lo bisa bangun sekarang, hehe." Denan ikut menampilkan cengirannya demi meleburkan sedikit kesedihan di antara mereka. Denan menggeplak pundak Regan yang terlihat sedang mengusap ujung matanya.
"Yeeehh cengeng lo, kayak cewek."
"Heh! Lo tau? Gue setiap hari ke sini jengukin dia, ngobrol sendiri udah kayak orang gila, dan setelah sadar dia nggak ingat gue sama sekali? Berengsek lo, Van." Regan beralih menatap Vanka dengan sorot mata permusuhan, membuat mereka tertawa kecil.
Mereka semua tahu, kalau dibanding yang lain, Vanka memang paling dekat dengan Regan. Saking seringnya mereka bersama, bahkan banyak yang mengatakan kalau mereka kembar.
Vanka terdiam lama ketika tatapannya berhenti di Ave, ia terlihat mengernyit dalam, membuat Ave ikutan mengernyit.
"Kenapa lo natap gue kayak gitu? Lo inget sama gue?" tanya Ave dengan penuh harap. Namun sayangnya Vanka menggeleng, ia terlihat mengerjapkan matanya sembari mendongak, seakan tengah mengingat-ingat suatu hal.
"Gue belum bisa ingat siapa lo, tapi waktu lihat wajah lo, gue rasa ada sesuatu yang mengganjal," ucap Vanka dengan mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Jangan dipaksakan kalau belum bisa." Mama Vanka mengusap puncak kepalanya lembut. Jasmine ikut menggenggam tangan Vanka, karena sama seperti Ave, Jasmine pun ikut menaruh harapan agar Vanka bisa mengingat semua yang terjadi sebelum kecelakaan.
"Kamu inget sesuatu? Coba pelan-pelan diingat, kalau sakit jangan dipaksain," ucap Jasmine penuh harap, namun juga khawatir melihat Vanka yang terlihat mendesis kecil.
"Gue nggak tahu ini apa, tapi waktu lihat wajah lo, ada sekelebat bayangan di pikiran gue."
"Apa itu?" Wajah Ave berubah tegang.
"Sebuah pohon besar, di pohon itu ada lubang gede setelapak tangan, dan gue kayak ngelempar sesuatu ke lubang itu tapi gue nggak tau itu apa."
Ave merasa tubuhnya seperti terseterum, matanya terbelalak dan seketika ia bertukar pandang dengan Jasmine.
Ini yang ditunggu mereka sekian lama, ini dia petunjuk selanjutnya!