Aero school

Rain Dandelion
Chapter #45

POTONGAN JARI

Siang ini Denan tengah bermalas-malasan di kamar ketika telinganya mendengar suara berisik dari salah satu ruangan di rumahnya.

Bugh! Bugh! Brak!

"Buset, Ave ngapain dah siang bolong begini," gumamnya dan beranjak bangkit dari posisi rebahan.

Denan keluar menuju sebuah ruangan yang terletak palik ujung di lantai dua. Sebuah kamar gym yang merangkap ruangan latihan beladiri dan juga menyatu dengan ruang baca.

Denan membuka pintu kaca, menemukan Ave yang hanya mengenakan crop top dan hot pants sedang memukuli samsak dengan bertenaga. Peluh terlihat membanjiri seluruh tubuhnya.

"Emosi amat lo, kek mau mukulin orang."

Ave hanya melirik sekilas mendengar celetukan Denan, lanjut memukuli samsak sembari dalam hati menggerutu kalau dirinya memang sangat ingin memukuli seseorang habis-habisan.

Setelah merasa tangannya mulai kebas Ave menghentikan pergerakannya, mencopot sarung tinju dan beranjak duduk di samping Denan setelah terlebih dahulu mengambil minuman di kulkas pojok ruangan.

"Liat nih." Denan tiba-tiba menyentuh lengan atas Ave dan menekan-nekannya dengan raut wajah konyol.

"Keras banget, Ave. Udah nggak enak lo kalo dipeluk," gumamnya tanpa dosa.

Ave mencebikkan bibir.

"Bodoamat lah lo mau ngomong apa," sahut Ave dan meneguk minumannya.

Denan tertawa kecil, menatap lamat-lamat wajah kembarannya dari samping. Denan jadi mengenang masa lalu mereka, semenjak kejadian penculikan dan kekerasan yang dialami Ave, perempuan itu selalu semangat untuk berlatih bela diri. Bahkan Denan masih ingat dengan jelas, waktu SMA Ave pernah menang duel tinju dengan preman sekolah yang kerjaannya tawuran dan memalak uang adik kelas. Denan tak menyangka semakin dewasa kepribadian Ave semakin keras dan terlalu jantan untuk seorang perempuan.

Denan terdiam, hanyut dalam pikirannya sendiri. Begitupun dengan Ave. Di pikirannya sekarang, ia sedang menyusun banyak rencana setelah usahanya dengan Jasmine kemarin gagal dengan begitu konyolnya.

Saat itu, kaki Ave baru saja menapak di atas batu besar yang berhasil mereka pindahkan. Bahkan tangan Ave belum sempat terangkat ketika suara bariton tiba-tiba terdengar dari belakang mereka, bagaikan petir di siang bolong.

"Siapa kalian? Sedang apa di sini?"

Jasmine berteriak pendek karena terkejut, Ave menoleh dengan cepat, wajahnya langsung menegang.

Seorang lelaki paruh baya berbadan kekar tengah menatap mereka dengan tatapan menyelidik. Ave segera turun dari batu yang diinjaknya, dan Jasmine justru menampilkan cengiran tanpa dosa.

"Kami? Eh-kami ... bukan siapa-siapa sih, Pak," celetuk Jasmine masih dengan raut tanpa dosa. Sedangkan Ave yang memakai masker hitam tak berekspresi apapun, ia sedang menebak siapa kemungkinan orang di hadapan mereka ini.

"Di sini tempat terpencil, kenapa bisa kalian di sini? Apa yang kalian sembunyikan?" tanya lelaki paruh baya itu tanpa basa-basi.

Ave dan Jasmine saling berpandangan sebentar.

"Eh-itu! Kemaren itu ya, Pak, saya kesasar sama adek saya ke sini, terus adek saya nggak tahu kenapa malah tantrum dan buang sandalnya ke pinggir jalan, saya paksa tuh dia buat pulang, eh di rumah malah tantrum lagi minta dicariin sandalnya. Kesayangan soalnya itu, Pak, jadi ini sekarang saya lagi nyari sendal adek saya, tapi nggak ketemu. Kalo Bapak nemuin bisa tolong simpankan dulu Pak?"

Lihat selengkapnya