Suasana kantin selalu ramai oleh semua penghuni kampus, biasanya Ave akan semangat membawa sepiring spageti dan menyantapnya di meja pojok yang menjadi kebanggaannya.
Tapi kini ia terlihat lesu, terduduk di sembarang tempat sembari terdiam menatap sekeliling. Mejanya masih kosong tanpa satupun makanan.
Beberapa saat kemudian personil komplotannya mulai datang mendekatinya. Amora menatapnya aneh sembari meletakkan nampan berisi semangkok bakso dan lemon tea dengan kasar.
"Jawab jujur! Lo puasa apa gimana?" Amora mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Ave. Ave hanya berdecak malas dan menyingkirkan telunjuk Amora dari hadapannya. Kali ini personil mereka tidak lengkap karena Regan sedang absen karena ibunya sakit.
"Duduknya juga tumben di sini? PMS? Kayaknya belum tanggalnya deh," sahut Rovero membuat Denan memicing menatapnya.
"Keren amat lo baru pacaran berapa bulan udah inget tanggal merahnya?" celetuknya hanya ditanggapi cengiran oleh Rovero.
Ave masih terdiam tanpa ada niatan menjawab ocehan absurd orang-orang di sekelilingnya, wajahnya masih terlihat pucat dan itu sangat disadari oleh mereka.
"Kalo sakit pulang aja ayo lah, kalo pingsan gue malas gendong lo." Denan berucap asal sembari menempelkan punggung tangannya di dahi Ave.
"Ck! Apa sih, ribet." Ave kembali menyingkirkan tangan yang menempeli wajahnya.
Kini Amora mencengkram kedua pundaknya dan berucap heboh sembari mengguncang tubuhnya.
"Tapi suer! Lo kenapa woi? Lo emang tukang diem tapi lo nggak akan diem tanpa makan di kantin!! Lo kerasukan ya? Ngomong woi!"
"Gue nggak pa—huekk." Ave tak bisa melanjutkan ucapannya, ia kembali merasa mual karena melihat sepiring sosis goreng yang Rovero bawa. Melihatnya justru membuatnya kembali teringat potongan jari yang ia buang tadi.
"Eh eh—" Amora memekik kecil. Denan sontak berdiri dan menepuk-nepuk pelan punggung Ave, Rovero ikut berdiri dan memegang lengannya.
"Lo kenapa? Kalo sakit pulang aja, nggak usah ditahan." Rovero berucap khawatir.
Ave mengibaskan tangannya sembari sebelah tangan yang lain menutup mulutnya sendiri, ia menyerobot gelas lemon tea milik Amora dan meneguknya sampai separuh.
Ave menghembuskan napas kasar. Ia tidak apa-apa, hanya mual karena mengingat hal menjijikkan yang ia temui tadi. Tapi bagaimana cara menjelaskannya kepada mereka?
"Udah lah ayok pulang." Rovero menarik tangan Ave agar berdiri namun Ave menolak.
"Gue beneran nggak papa suer," ucapnya mengangkat kedua jarinya, meyakinkan.
"Yaudah, ayo ke klinik aja—"
Brak!
Ucapan Rovero terpotong ketika seseorang tiba-tiba ambruk mengenai salah satu meja di dekat mereka, sontak semua atensi teralihkan ke arah perempuan yang terlihat terduduk lemas di lantai.