Dari kecil, Ave memang jarang bersosialisasi dengan banyak orang, terbiasa hidup dalam lingkungan elite yang orang-orangnya minus interaksi membuatnya menjadi pribadi yang minus empati. Namun seiring umurnya bertambah dewasa, Ave mulai mengerti kalau manusia itu makhluk sosial, yang hidupnya pasti saling berpaut pada orang lain. Ave mulai bisa merasakan arti peduli terhadap orang lain.
Dan saat ini, Ave masih mencatat di notebook miliknya ketika Denan dan Rovero tiba-tiba memasuki kelasnya dengan tergesa.
"Kenapa kalian?" Amora menegur terlebih dahulu, membuat Ave tersadar dan mengangkat pandangan dari catatannya.
"Ayo ke rumah sakit, baru aja Regan ngabarin dia kecelakaan." Rovero menjawab lugas membuat Amora sontak memekik tak santai.
Mereka memang ada niatan pergi ke rumah sakit, tapi untuk menjenguk mamanya Regan dan menjenguk Vanka sekalian, bukan malah untuk menjenguk Regan seperti ini.
"Itu bocah pasti ngebut, susah banget emang kalo dibilangin buat hati-hati." Amora sibuk mengoceh kesal sembari merapikan barang-barangnya, padahal dalam hati ia pasti sangat khawatir.
Sedangkan Ave terdiam, ini untuk pertama kalinya bukan perasaan kesal yang ia rasakan terhadap Regan.
Ave ikut bergegas merapikan barangnya dengan pikirannya yang justru berkelana memikirkan banyak kemungkinan.
Perasaannya terasa tak nyaman, dan ia justru curiga kalau hal ini pasti ada sangkut pautnya dengan dirinya. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba terpikirkan seperti itu, tapi ucapan Clareety benar-benar mengacaukan ketenangannya sejak tadi.
Meskipun Ave membawa motor sendiri, tapi ia memilih membonceng motor Rovero. Amora juga naik motor bersama Denan. Mereka bergegas ke rumah sakit tanpa pulang terlebih dahulu.
***
"Lo kenapa woi, disuruh jagain orang tua malah ikutan nginep di sini, payah!" Bukan Denan namanya kalau datang-datang tidak mengucapkan hal yang menyebalkan.
"Asli deh, heran gue, bisa-bisanya gue nyium aspal trotoar. Saking cintanya itu aspal sama gue kalik ya," balas Regan meladeninya dengan santai.
Amora mendekatinya dan menggeplak lengan Regan kencang, membuat lelaki itu memekik kecil. "Sakit woi!"
"Lo tuh ya, makanya nggak usah merasa jagoan kalo naik motor, babak belur gini lo sendiri kan yang susah? Tante lagi sakit lo nya malah berulah," omel Amora yang justru membuat Regan cengengesan.
"Alah, khawatir bilang aja kali," ucapnya tanpa dosa, membuat Amora hendak melayangkan tangannya kembali.
"Nyokap lo di mana?" tanya Rovero menginterupsi pertengkaran mereka berdua.
"Di ruangan sebelah, kalian ke sana aja kalo mau jenguk nyokap gue."
Ave hanya terdiam melihat interaksi mereka sebelum kemudian ia beranjak mendekati Regan.
"Lo ngapain bisa sampe kayak gini?" tanya Ave dengan rasa ingin tahunya.
"Oh iya njir, jadi inget kan. Bener-bener emosi gue. Tadi itu gue dari rumah ambil bajunya mama, waktu perjalanan ke sini tiba-tiba banget ada orang gak jelas naik mobil ugal-ugalan. Dia kebut-kebutan mepet motor gue mulu, akhirnya gue keserempet deh nyium trotoar, beginilah akhirnya .... Niat hati mau jadi anak berbakti sama nyokap yang lagi sakit, eh malah ikutan tepar di sini." Regan mengangkat bahu malas setelah mengakhiri penjelasan singkatnya, prihatin dengan dirinya sendiri.
Seketika itu juga tubuh Ave menegang.
"Lo punya musuh ya, Re?" tanya Rovero.
"Wee enak aja, nggak ada ya, gini gini juga gue anak yang baik hati, yang ada orang-orang mah pasti sayang sama gue."