Darah merah pekat yang menetes perlahan ke atas lantai marmer calacatta putih itu tampak seperti sebuah penghinaan absolut.
Di Villa Aerterna—kediaman berdinding kaca yang bertengger angkuh di atas tebing batu kapur—ketidaksempurnaan adalah dosa besar yang tak termaafkan. Bangunan ini bukan sekadar rumah; ini adalah mahakarya arsitektur yang dikendalikan penuh oleh sang kepala keluarga. Setiap sudutnya dirancang matematis. Udara di dalamnya selalu disaring bersih, menyisakan suhu dingin yang stabil dan aroma samar white tea. Tidak ada debu yang diizinkan hinggap. Tidak ada barang yang boleh bergeser dari tempatnya.
Sampai malam ini.
Jam digital yang tertanam rata dengan dinding dapur menunjukkan pukul 02:14 pagi. Di luar sana, badai akhir musim gugur menghantam dinding kaca dengan brutal, mengaum seperti luka yang terbuka. Namun di dalam, kesunyian justru terasa begitu pekat. Kesunyian yang merayap naik dan nyaris mencekik tenggorokan.
Elena berdiri mematung di dekat pulau dapur berbahan granit hitam pekat. Ia mengenakan gaun tidur sutra gading yang jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi di tengkuk, sebuah kebiasaan yang tidak pernah ia lepas bahkan saat tidur. Tatapannya lurus dan tajam, mengunci pandangan pada pintu utama berbahan kayu ek solid.
Terdengar bunyi klik biometrik yang sangat pelan. Pintu berat itu bergeser terbuka, membawa serta embusan angin malam yang basah.
"Kau terlambat dua puluh empat menit dari jam malammu, Anya," ucap Elena. Suaranya mengalun datar, tanpa intonasi marah, seolah sedang menegur putrinya karena salah meletakkan sendok teh.
Tidak ada jawaban yang membalas.
Alih-alih kata maaf, yang terdengar hanyalah tarikan napas yang memburu, basah, dan tersengal-sengal. Disusul oleh bunyi rintik cairan pekat yang membentur lantai batu.
Elena memutar tubuhnya perlahan. Ekspresi dingin yang sudah ia siapkan seketika retak. Kelopak matanya melebar memindai siluet di ambang pintu.
Anya berdiri di sana, menahan beban tubuhnya yang terus bergetar. Gadis berusia tujuh belas tahun itu tampak seperti mimpi buruk yang menyusup masuk ke dalam galeri seni yang suci. Gaun putih linen yang menempel di tubuh rapuhnya kini hancur lebur. Kainnya basah kuyup, dipenuhi sisa lumpur, serpihan daun pinus, dan... sebuah noda merah gelap yang merembes luas dari dada hingga ke kerahnya.
Aroma hujan seketika tersapu bersih, digantikan oleh bau anyir besi tua yang menginvasi udara steril Villa Aerterna.
Anya menatap ibunya dengan sepasang mata kosong. Kedua tangannya terangkat kaku di depan dada, jari-jarinya meregang aneh seolah ia sedang berusaha menjauhkan benda menjijikkan dari tubuhnya. Padahal, benda itu adalah tangannya sendiri.
Cairan pekat itu berkilau di bawah temaram lampu sensor. Menetes lambat dari ujung jemari Anya yang pucat pasi.
Tetes.
Satu tetes darah kental jatuh membentur marmer putih.